Jumat, 25 Juni 2021

ULAMA PENDIRI TARIQOT ANNAQSYABANDI

Komplek pemakaman Syekh Bahauddin Annaqsyabandi. 

Tulisan ini disari dari berbagai sumber, sebagai bahan bagi seluruh pegiat sejarah. Terlebih bagi pengikut Annaqsyabandiyah. Sebagai salah satu Tariqot yang besar didunia, khususnya di Asia Tenggara. 

NAMA aslinya adalah Bahauddin Syah Naqshabandi, 717 H (1317 M). Beliau lahir Di Qasr Hinduan yang kemudian dikenal dengan Qasr al Arifan. Letak makam beliau dipinggir jalan raya yang menghubungkan Provinsi Bukhara dengan Samarqan. Tanah disekitar makam sangat subur, lahan pertanian nan hijau. Angin semilir bertiup dari dedaunan, membuat suasana seperti di tengah perkebunan Padang Sahara.

Di depan komplek makam Imam Bahauddin Naqsyabandi berdiri pintu gerbang yang sangat kokoh. Bila dipandang dari jalan raya, dapat dibaca tulisan kaligrafi ayat-ayat Alquran yang sangat indah, ditulis dengan kramik berwarna, dengan pewarnaan yang teduh, bercirikan khas Persia.

Para pekerja mengurus makam dengan ramah menghampiri, mempersilakan untuk berwudhuk atau sekedar qadha hajat. Para petugas ini pegawai negeri yang digaji oleh negara, mereka tidak meminta uang tip atau sedekah lainnya, seperti laiknya ziarah ditempat lain. Cara seperti ini membuat para peziarah merasa sangat nyaman.

Suasana di tempat wudhuk ini sangat bersih, tertata, dan tidak ada sepotong sampah terbuang di lantai, apalagi kotoran. Kebersihan ini didukung oleh pembangunan yang terencana. Usai berwudhuk, bekas kaki yang mebasahi lantai langsung di pel oleh petugas agar cepat kering. Menariknya, usai wudhuk, petugas memberikan handuk kecil untuk mengelap muka, tangan dan kaki. Handuk bekas tersebut kemudian disimpan dalam keranjang plastik untuk dicuci. Saya perhatikan semua orang usai berwudhuk diberikan kain handuk kecil itu, sebagai bagian dari pelayanan kepada orang yang datang berziarah.

Tidak ada tulisan dilarang memakai alas kaki, sendal atau sepatu kedalam ruang wudhuk, semua orang masuk memakai sendal dan sepatu. Karena itu setiap orang keluar dari tempat tersebut, segera di pel dengan handuk pengepel khusus, bersih tidak ada kotoran sekecil apapun jua.

Jalan menuju masjid di sisi kanan dan kiri ditanami pohon dan bunga. Saat kami berziarah, bunga2 tersebut sedang semerbak, mengeluarkan bau harum yang sangat menggoda. Taman kecil itu juga ditanami kayu pelindung. Di tengah antara satu pohon dengan pohon yang lain, ungkapan Imam Bahauddin al Naqshabandi ditulis dengan hurup kapital, dalam dua bahasa, Rusia dan Inggris, mengingatkan orang akan nasehat dan petuah-petuah beliau untuk pegangan hidup.

Di depan jalan menuju makam, beberapa orang duduk mendengarkan bacaan Alquran dari seorang anak muda, dengan mengenakan peci khas muslim Uzbek. Saya ikut duduk dan menyimak bacaan Alquran. Bacaannya murattal, dan iramanya hampir sama dengan suara saudara kita yang berasal dari Turkye.

Saya salah persepsi dengan majlis bacaan Quran ini. Saya berpikir, usai majlis ini akan ada pemberian uang kepada ustad tersebut, baik berupa sedekah, infak atau lainnya. Ternyata tdk ada pemberian sedekah, yang ada hanya sebuah kotak amal yang terbuat dari besi, dan disegel dengan kertas berwarna kemerahan, bertuliskan jumlah penerimaan kotak amal waktu dibuka sebelumnya. Kotak amal ini dikelola oleh negara, bukan atas nama pribadi. Masya Allah transparansi keuangan ummat yang luar biasa, perlu dicontoh guna menghindari fitnah dalam pengelolaan uang milik ummat.

Saya mengajak ustad ini untuk bercakap2 sejenak tentang al Imam Bahauddin Naqsyabandi, saya memulai dengan bahasa arab fushha (fasih). Beliau menjawabnya dengan fasih. Tetapi sayang, tamu peziarah lain datang, beliau harus membaca alQuran dan doa untuk jamaah tersebut. Pembicaraan kami berakhir dengan photo berdua sebagai kenangan.

Makam Imam Bahauddin berada di tengah halaman dalam (suhun) masjid. Makam imam dipagar dengan beton. Di sekitar tembok beton tersebut ditanami bunga berwarna-warni, terawat rapi. Tidak ada kesan makam ulama besar ini angker dan kotor. Kita tidak dapat melihat bentuk makam Imam Bahauddin. Di atas dinding beton dibuat ornamen berbentuk kubah kecil, sebagai ciri khas arsitektur masjid.

Di arah kepala makam terdapat dua pohon rindang sebagai pelindung dan penghijauan. Di bawah pohon tersebut terdapat kursi. Di depan tempat duduk yang melingkar, terdapat tulisan dalam bahasa Arab, menjelaskan tentang imam Bahauddin Naksyabandi. Tidak jauh dari tulisan tersebut terdapat kotak amal dari besi, disegel dengan kertas kwitansi, yang bertuliskan jumlah angka infak kotak amal terakhir dibuka.

Saya memperhatikan setiap peziarah tidak ada yang mambawa amplop/kertas bertuliskan pesan-pesan kepada Imam Bahauddin, seperti yang dilakukan orang awam, syiah serta lainnya ketika menziarahi makam sesepuh mereka. Juga tidak ada orang menangis sembari meratap sambil menepuk-nepuk dada. Rata-rata ketika para peziarah memasuki komplek pemakaman membaca doa ziarah kubur, seperti yang diajarkan oleh baginda Nabi Saw. Ini salah satu ciri orang berpikir cerdas, bahwa orang yang berpulang kerahmatullah itu telah selesai urusan dunianya, tinggal orang hidup yang mendoakannya.

Apa yg dilakukan oleh para peziarah di makam Bahauddin al Naksyabandi, menarik untuk dikaji, karena para pengikut tarekat beliau di luar kota Bukhara, atau wilayah lain dunia ini, mereka membuat aturan yang menyalahi apa yang diajarkan oleh Imam Naqsyabandi dan adab berziarah ke makam.

Di bagian belakang masjid ini terdapat menara yang sangat tinggi. Menara ini dibuat dengan menggunakan batu bata, bentuknya bulat melingkar. Tidak menggunakan besi baja untuk penguat bangunan. Cara pembangunan menara masjid seperti ini hampir sama di seluruh masjid Uzbekistan, seperti bangunan-bangunan bersejarah di Bukhara, tempat kelahiran al Imam al Bukhari ra.

Bangunana di sekitar menara masjid Imam Bahauddin terdapat ruang perkantoran pengelola masjid. Bangunan terakhir dari masjid ini terdapat bangunan masjid zaman dahulu, menjadi bukti sejarah bahwa tarekat an Naqsyabandiyah terus berkembang dan dilanjutkan oleh para murid beliau sampai saat ini.[]

Bukhara

Jumat, 18 Juni 2021

Senandung Pancasila

Senandung Pancasila

Berpuluh tahun usiamu
Sejak engkau jadi panduku
Berpuluh tahun usiamu
Tumbuh subur di negeriku

Pandumu jadi pedomanku
Hidup rukun di Indonesiaku
Jadi ruh bangsaku
Diseluruh bumi pertiwiku

Empat Delapan diuji nyalimu
Kala itu baru berdiri bangsaku
Penghianat itu menerormu
Mencoba menelanjangimu

Enam lima sejarah itu
Kusuma bangsaku jadi tamengmu
Komunis mencoba menguburmu
Lubang Buaya saksi bisu

Dua puluh kembali bersiteru
Penghianat itu menggerogotimu
Menguburmu diusia senjamu
Menggantimu dengan kebusukan itu

Pancasila Dasar bangsaku
Menyatukanku dalam perbedaanku
Meski mereka menggerogotimu
Bertaruh nyawa kami menjagamu

Penghianat itu mulai bersatu
Menguasai senayanmu
Namun engkau jangan ragu
Rakyatmu siap untukmu 

Penghianat kubur mimpimu
Neraka tempat kembalimu
Anak negeri bersatu padu
Jaga negeri dan bangsamu

Oleh Taufik Akbar Hasibuan

Sabtu, 22 April 2017

Isra Mi'raz

ISRA’ MI’RAJ
A. Pengertian Isra’
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan peristiwa Isra’ pada malam hari dari Makkah ke Masjid al-Aqsha. Peristiwa Isra’ ini terjadi pada hari senin tanggal 27 Rajab, satu tahun sebelum peristiwa hijrah. Para ulama’ dari generasi  salaf dan khalaf, dari kalangan ahli hadits, ulama’ kalam, ulama’ tafsir dan ulama’ fiqih telah sepakat bahwa Isra’ terjadi dengan jasad, ruh dan dalam keadaan terjaga dan bukan hanya sekedar mimpi. Peristiwa Isra’ ini dinyatakan di dalam al-Qur’an dan hadits shahih. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ أٰيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[*] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)
[*] Maksudnya: al-Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkah dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Perjalanan isra’ dimulai dari al-Masjid al-Haram setelah terlebih dahulu dada beliau dibelah dan dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan hati yang kuat. Pada saat itu beliau di Makkah. Jibril datang pada malam hari dengan membuka atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu atau yang lainnnya. Saat itu beliau sedang tertidur di antara pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah putri Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abi Thalib saudara perempuan Ali bin Abi Thalib di suatu perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya menuju al-Masjid al-Haram. Bersama Malaikat Jibril beliau berangkat dengan Buraq; seekor binatang surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh pandangannya.

Di tengah perjalanan isra’ ini, Rasul melewati beberapa tempat bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota Madyan (kota Nabi Syuaib), bukit Thur Sina’ (tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah) dan Bayt Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di tiap-tiap tempat ini, Jibril selalu minta Rasul untuk turun dan melakukan shalat dua rakaat (HR. al-Baihaqi).

Setelah Rasul sampai di Bayt al-Maqdis (al-Masjid al-Aqsha), Rasul bersama para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa, melakukan shalat berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam. Allah mempertemukannya dengan seluruh para nabi di sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah membangkitkan para nabi yang sebelumnya telah wafat kecuali Nabi Isa (sebab beliau masih hidup di langit hingga sekarang). Kemudian Allah menambahkan kemuliaan untuk Nabi-Nya dengan mengangkat delapan nabi yaitu Adam, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut Rasulullah di sana.
B. Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang disaksikan Rasulullah j ketika Isra’ adalah:
1. Dunia
Rasulullah melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua renta. Hal ini menggambarkan bahwa dunia dengan segala isinya yang menggairahkan akan lenyap dan fana’, sebagaimana seorang wanita yang ketika mudanya sangat cantik dan menawan, akan hilang kecantikannya ketika menjelang tua.
2. Iblis
Rasulullah melihat sesosok makhluk yang menyingkir dari bahu jalan seraya memanggilnya, dia adalah Iblis. Pada mulanya Iblis adalah jin muslim, kemudian ia menjadi kafir karena melakukan protes terhadap perintah Allah.
3. Tukang sisir (Masyithah) putri Fir’aun
Kemudian Rasulullah mencium aroma wangi dari kuburan tukang sisir putri Fir’aun. Perempuan yang menjadi tukang sisir ini adalah perempuan muslimah dan shalehah. Dalam kisahnya bahwa suatu ketika perempuan ini tengah menyisir rambut putri Fir’aun, jatuhlah sisir dari tangannya, maka ia mengucapkan: “Bismillah”. Putri Fir’aun bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain ayahku ?”. Tukang sisir itu menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhan bapakmu adalah Allah”. Maka putri Fir’aun memberitahukan kepada ayahnya, lalu Fir’aun meminta tukang sisir tersebut untuk meninggalkan agamanya, namun tukang sisir tersebut menolak. Kemudian Fir’aun memanaskan air di suatu tempat dan melemparkan anak-anaknya ke air panas tersebut, kemudian anaknya yang masih menyusu berkata kepadanya sebelum dilemparkan oleh Fir’aun: “Wahai ibuku, bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia, janganlah engkau gentar dan mundur, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”Tukang sisir itu berkata kepada Fir’aun: “Aku punya permintaan kepadamu, agar engkau kumpulkan tulang-tulang kami dan dikuburkan”, Fir’aun mengatakan: “Ya”, kemudian Fir’aun melemparnya. Perempuan tersebut dan anak-anaknya akhirnya mati syahid.
4. Para mujahid di jalan Allah
Rasulullah melihat sekelompok kaum yang menanam dan menuai hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah.”
5. Para penceramah pembawa fitnah
Rasulullah melihat mereka menggunting lidah dan bibir mereka dengan gunting dari api. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah para penceramah penebar fitnah, mengajak orang kepada kesesatan, kerusakan, penipuan dan khiyanat.
6. Orang yang berbicara dengan perkataan yang menimbulkan bahaya dan fitnah
Rasulullah juga melihat sapi jantan yang keluar dari lubang yang sempit kemudian ingin masuk kembali ke lubang tersebut namun tidak bisa. Jibril berkata kepada beliau: “Itu adalah orang yang berbicara dengan perkataan yang merusak, membahayakan orang dan menimbulkan fitnah, kemudian ingin menariknya kembali, namun tidak bisa”.
7. Orang-orang yang tidak membayar zakat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, auratnya tertutup hanya dengan kain-kain kecil. Jibril berkata kepada beliau: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat.
8. Orang-orang yang meninggalkan shalat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang retak dan pecah kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berat kepalanya (meninggalkan) untuk menunaikan shalat”.
9. Para penzina
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang dari ummatmu yang meninggalkan perkara halal, justru mereka memilih perkara yang haram dan keji, lalu memakannya, mereka adalah para penzina.
10. Para peminum khamr
Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang keluar dari penzina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang diharamkan oleh Allah di dunia”.

11. Orang-orang yang melakukan ghibah
Rasulullah juga melihat orang-orang yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku-kuku dari tembaga. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menggunjing keburukan-keburukan orang”.
C. Pengertian Mi’raj
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah telah memuliakan Nabi Muhammad j dengan peristiwa mi’raj. Mi’raj adalah perjalanan yang dimulai dari Masjid al-Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh.
Kebenaran peristiwa Mi’raj juga telah ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih, sedangkan dalam al-Qur’an dijelaskan dari beberapa ayat yang mendekati nash sharih (tegas) tentang kejadian Mi’raj. Allah berfirman:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى.
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya terdapat surga.” (QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan dalam hadits Muslim bahwa ketika Rasul bersama Jibril sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu langit tersebut setelah terjadi percakapan antara Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali Rasul dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap langit yang tujuh. Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa, di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Peristiwa ini terjadi pada malam ke 27 Rajab sebelum hijrah.
Menurut Ibnu Abbas bahwa Rasulullah j melihat Tuhannya dua kali ketika mi’raj sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath. Demikian juga menurut Ibnu Khuzaimah: “Muhammad melihat Tuhannya.” Nabi melihat Tuhannya dengan hati sebagaimana hadits Muslim dari jalur Abu al-Aliyah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأٰى. أَفَتُمَارُوْنَه عَلٰى مَا يَرٰى. وَلَقَدْ رَأٰهُ نَزْلَةً أُخْرٰى.
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 11-13)
Dia (Ibnu Abbas) berkata: “Dia melihat Tuhannya dengan hati dua kali.”
Dalam hadits shahih yang sangat panjang riwayat Imam Muslim, Rasulullah j menjelaskan mengenai peristiwa isra’ dan mi’raj. Dalam hadits tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di sidratul muntaha beliau mendengar kalam Allah di antaranya berisi kewajiban shalat 50 kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian terjadilah dialog dengan Nabi Musa yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan dan akhirnya diwajibkan bagi umat Islam hanya lima kali shalat sehari semalam.
D. Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah j berada di suatu tempat yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi dari langit ketujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya, antara lain:
1. Malaikat Malik, Penjaga Neraka.
Di antara keajaiban yang dilihat oleh Nabi pada malam tersebut adalah Malaikat Malik; penjaga neraka. Malik tidak tersenyum kepada Rasulullah, maka beliau bertanya kepada Jibril kenapa tidak melihatnya tersenyum kepada Nabi seperti yang lain ?. Jibril menjawab: “Malik belum pernah tersenyum sejak diciptakan oleh Allah, seandainya Malik tersenyum kepada seseorang niscaya ia tersenyum kepadamu”.
2. Al-Bayt al-Makmur
Di langit ke tujuh Rasulullah melihat al-Bayt al-Ma’mur yaitu rumah yang dimuliakan. Bagi para malaikat penduduk langit, al-Bayt al-Ma’mur seperti halnya Ka’bah bagi penduduk bumi. Setiap hari al-Bayt al-Ma’mur dimasuki 70.000 malaikat yang melakukan shalat di sana , kemudian mereka keluar dan tidak pernah kembali lagi.
3. Sidrat al-Muntaha
Sidrat al-Muntaha adalah sebuah pohon yang amat besar dan indah, tak seorangpun di antara makhluk yang dapat menyifatinya (menjelaskan keindahannya secara detail). Akarnya di langit ke enam dan menjulang tinggi hingga ke langit ke tujuh, Rasulullah melihatnya di langit ke tujuh.
4. Surga
Surga adalah tempat kenikmatan yang disediakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Surga berada di atas langit ketujuh dan sekarang sudah ada. Di dalam surga, Rasulullah juga melihat al-Wildan al-Mukhalladun, yaitu makhluk yang diciptakan Allah untuk melayani penduduk surga. Mereka bukan malaikat, jin atau manusia, mereka juga tidak berbapak dan beribu. Rasulullah juga melihat bidadari. Jibril meminta Rasulullah mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka menjawab: Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi rupawan. Kami adalah isteri orang-orang yang mulia.”
5. ‘Arsy.
Kemudian Rasulullah melihat arsy yang merupakan makhluk Allah yang paling besar ukurannya, di sekeliling arsy terdapat para malaikat yang sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah. Arsy memiliki tiang-tiang seperti ranjang, yang dipikul oleh empat malaikat yang sangat besar bentuknya, dan pada hari kiamat dipikul oleh delapan malaikat. Rasulullah telah menggambarkan salah satu dari para malaikat pemikul arsy ini bahwa jarak antara daun telinga dan pundaknya adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbangnya burung yang terbang cepat. Kursi dibandingkan dengan arsy seperti halnya cincin di padang pasir yang luas. Rasulullah bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِى جَنْبِ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِى أَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ
“Tujuh langit (dan tujuh bumi) dibandingkan dengan kursi bagaikan cincin di padang pasir yang luas, dan bandingan arsy atas kursi seperti bandingan padang pasir tersebut dengan cincin.”
Arsy adalah makhluk pertama setelah air, kemudian disusul al-Qalam al-A’la, lalu al-Lauh al-Mahfuzh. Kemudian setelah al-Qalam al-A’la menulis di al-Lauh al-Mahfuzh segala hal yang telah terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat, setelah itu, 50 ribu tahun kemudian, Allah menciptakan langit dan bumi.
Imam al-Baihaqi mengatakan: “Para ahli tafsir menyatakan bahwa ‘Arsy adalah benda berbentuk sarir (ranjang) yang diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan para malaikat untuk menjunjungnya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka dengan mengelilingi dan mengagungkannya sebagaimana Ia menciptakan Ka’bah di bumi ini dan memerintahkan manusia untuk mengelilinginya ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di saat shalat.” (lihat al-Asma’ wa ash-Shifat, hlm. 497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ  يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya.” (Riwayat Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 333)

6. Sampainya Rasulullah ke sebuah tempat yang tinggi sehingga beliau mendengar suara pena para malaikat.
Setelah dari Sidrat al-Muntaha, Rasulullah tanpa ditemani Jibril meneruskan perjalanan naik hingga sampai ke tempat yang tinggi. Di sana, Rasulullah mendengar suara pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menyalin dari al-Lauh al-Mahfuzh ke lembaran-lembaran catatan mereka.
7. Rasulullah mendengar Kalam Allah yang Dzati, Azali dan Abadi.
Aqidah Ahlussunnah menyatakan bahwa Kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya adalah qadim dan azali, ada tanpa permulaan, tidak seperti kalam (pembicaraan) kita yang bermula dan berpenghabisan. Kalam Allah azali, bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena bahasa, huruf dan suara adalah makhluk, mustahil Allah bersifat dengan sifat yang diciptakan. Oleh karenanya kita meyakini bahwa Nabi Muhammad mendengar kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya yang azali tanpa suara, tanpa huruf dan bukan menempati telinga saat didengar. Pada malam yang penuh berkah tersebut, Allah membuka dari Rasulullah hijab yang yang menghalangi untuk mendengar kalam Allah yang azali dan abadi yang tidak seperti kalam makhluk. Rasulullah memahami dari kalam tersebut perintah-perintah Allah kepadanya, juga beberapa perkara yang diwahyukan kepada beliau. Allah –dengan kuasa-Nya- memperdengarkan Kalam-Nya kepada Rasulullah di tempat yang tinggi, yaitu di atas Sidrat al-Muntaha, karena tempat tersebut adalah tempat ibadah para malaikat kepada Allah, dan tempat yang belum pernah seorangpun berbuat maksiyat di sana, bukan karena tempat itu adalah tempat Allah berada, sebagaimana disebutkan dalam sebagian buku yang menyimpang, karena Allah ada tanpa tempat.
8. Rasulullah melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.
Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam peristiwa Mi’raj adalah bahwa Allah mengangkat dari hati Rasulullah hijab maknawi, sehingga ia melihat Allah dengan hatinya, yakni Allah menjadikan Rasulullah memiliki kekuatan melihat di hatinya, bukan dengan matanya, karena Allah tidak bisa dilihat dengan mata yang fana di dunia, Rasulullah j bersabda:
وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوْتُوْا
“Ketahuilah bahwa kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian meninggal.”
Allah akan dilihat di akhirat dengan mata yang kekal, orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya akan  melihat Allah tanpa menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya, tanpa tempat, tanpa arah, tanpa berhadap-hadapan, tanpa berlaku jarak, tanpa bersambungnya cahaya antara orang yang melihat dan Allah.
9. Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk aslinya
Rasulullah sebelumnya pernah melihat malaikat Jibril untuk pertama kali dalam bentuk aslinya di Makkah dan beliau pingsan saat melihatnya. Pada malam Mi’raj, Rasulullah kembali melihat malaikat Jibril untuk yang kedua kalinya dalam bentuk asli, namun beliau tidak pingsan karena keteguhan hati dan kekuatan beliau sudah semakin bertambah kuat.
E. Kejadian Setelah Isra’ Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan: Perjalanan isra’ dan mi’raj hingga kembalinya Rasul ke Mekah ditempuh dalam tempo sepertiga malam. Setelah itu Rasul mengabarkan kejadian tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada Abu Bakar untuk menanyakan hal itu, dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya mengatakan: “Aku mempercayainya ketika ia mengabarkan berita langit, kenapa aku tidak mempercayainya mengenai berita bumi ?.” Maka beliau diberi gelar ash-Shiddiq.
F. Kisah-kisah Tidak Berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat mi’raj, Allah mendekat kepada Rasulullah sehingga jarak antara keduanya adalah dua hasta atau lebih dekat lagi seperti anggapan sebagian orang. Yang benar adalah bahwa yang mendekat kepada Rasulullah adalah Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat an-Najm: 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan lainnya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril telah sampai pada suatu tempat setelah sidratul muntaha kemudian berkata kepada Nabi: “Di sinilah seorang kawan akan berpisah dengan kawan yang sangat dicintainya, seandainya aku terus naik, niscaya aku akan terbakar.” Ini adalah cerita dusta yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah pada saat mi’raj telah sampai di atas langit ke tujuh di suatu tempat di mana beliau mendengar kalam Allah, Nabi berkata: at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh Allah: as-Salamu ‘alayka Ayyuha an-Nabiyyu Warahmatullah Wabarakatuh, riwayat tersebut walaupun tertulis dalam beberapa kitab tentang peristiwa isra’ mi’raj dan disampaikan oleh beberapa orang dalam ceramah peringatan isra’ mi’raj adalah tidak benar, karena pada malam isra’ mi’raj shighat atau lafazh tahiyyat belum difardhukan. Hanya sebagian rawi-rawi pendusta yang meriwayatkan kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar di kalangan kaum muslimin, maka harus dijelaskan hal yang sebenarnya.

4. Riwayat tentang bacaan tasyahud atau tahiyat yang benar adalah sebagai berikut: “Pada awalnya sebagian para sahabat Rasulullah sebelum disyariatkan shighat tasyahhud, mereka mengucapkan dzikir atau bacaan:
اَلسَّلَامُ عَلٰى اللّٰهِ، اَلسَّلَامُ عَلٰى جِبْرِيْلَ، اَلسَّلَامُ عَلٰى مِيْكَائِيْلَ
Lalu Rasulullah j bersabda:
إِنَّ اللّهَٰ هُوَ السَّلَامُ
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada mereka untuk mengatakan:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga hidayah, taufiq dan inayah Allah senantiasa diberikan kepada kita sehingga keimanan kita semakin meningkat, aamiin.

Isra Mi'raz

ISRA’ MI’RAJ
A. Pengertian Isra’
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan peristiwa Isra’ pada malam hari dari Makkah ke Masjid al-Aqsha. Peristiwa Isra’ ini terjadi pada hari senin tanggal 27 Rajab, satu tahun sebelum peristiwa hijrah. Para ulama’ dari generasi  salaf dan khalaf, dari kalangan ahli hadits, ulama’ kalam, ulama’ tafsir dan ulama’ fiqih telah sepakat bahwa Isra’ terjadi dengan jasad, ruh dan dalam keadaan terjaga dan bukan hanya sekedar mimpi. Peristiwa Isra’ ini dinyatakan di dalam al-Qur’an dan hadits shahih. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ أٰيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[*] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)
[*] Maksudnya: al-Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkah dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Perjalanan isra’ dimulai dari al-Masjid al-Haram setelah terlebih dahulu dada beliau dibelah dan dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan hati yang kuat. Pada saat itu beliau di Makkah. Jibril datang pada malam hari dengan membuka atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu atau yang lainnnya. Saat itu beliau sedang tertidur di antara pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah putri Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abi Thalib saudara perempuan Ali bin Abi Thalib di suatu perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya menuju al-Masjid al-Haram. Bersama Malaikat Jibril beliau berangkat dengan Buraq; seekor binatang surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh pandangannya.

Di tengah perjalanan isra’ ini, Rasul melewati beberapa tempat bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota Madyan (kota Nabi Syuaib), bukit Thur Sina’ (tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah) dan Bayt Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di tiap-tiap tempat ini, Jibril selalu minta Rasul untuk turun dan melakukan shalat dua rakaat (HR. al-Baihaqi).

Setelah Rasul sampai di Bayt al-Maqdis (al-Masjid al-Aqsha), Rasul bersama para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa, melakukan shalat berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam. Allah mempertemukannya dengan seluruh para nabi di sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah membangkitkan para nabi yang sebelumnya telah wafat kecuali Nabi Isa (sebab beliau masih hidup di langit hingga sekarang). Kemudian Allah menambahkan kemuliaan untuk Nabi-Nya dengan mengangkat delapan nabi yaitu Adam, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut Rasulullah di sana.
B. Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang disaksikan Rasulullah j ketika Isra’ adalah:
1. Dunia
Rasulullah melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua renta. Hal ini menggambarkan bahwa dunia dengan segala isinya yang menggairahkan akan lenyap dan fana’, sebagaimana seorang wanita yang ketika mudanya sangat cantik dan menawan, akan hilang kecantikannya ketika menjelang tua.
2. Iblis
Rasulullah melihat sesosok makhluk yang menyingkir dari bahu jalan seraya memanggilnya, dia adalah Iblis. Pada mulanya Iblis adalah jin muslim, kemudian ia menjadi kafir karena melakukan protes terhadap perintah Allah.
3. Tukang sisir (Masyithah) putri Fir’aun
Kemudian Rasulullah mencium aroma wangi dari kuburan tukang sisir putri Fir’aun. Perempuan yang menjadi tukang sisir ini adalah perempuan muslimah dan shalehah. Dalam kisahnya bahwa suatu ketika perempuan ini tengah menyisir rambut putri Fir’aun, jatuhlah sisir dari tangannya, maka ia mengucapkan: “Bismillah”. Putri Fir’aun bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain ayahku ?”. Tukang sisir itu menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhan bapakmu adalah Allah”. Maka putri Fir’aun memberitahukan kepada ayahnya, lalu Fir’aun meminta tukang sisir tersebut untuk meninggalkan agamanya, namun tukang sisir tersebut menolak. Kemudian Fir’aun memanaskan air di suatu tempat dan melemparkan anak-anaknya ke air panas tersebut, kemudian anaknya yang masih menyusu berkata kepadanya sebelum dilemparkan oleh Fir’aun: “Wahai ibuku, bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia, janganlah engkau gentar dan mundur, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”Tukang sisir itu berkata kepada Fir’aun: “Aku punya permintaan kepadamu, agar engkau kumpulkan tulang-tulang kami dan dikuburkan”, Fir’aun mengatakan: “Ya”, kemudian Fir’aun melemparnya. Perempuan tersebut dan anak-anaknya akhirnya mati syahid.
4. Para mujahid di jalan Allah
Rasulullah melihat sekelompok kaum yang menanam dan menuai hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah.”
5. Para penceramah pembawa fitnah
Rasulullah melihat mereka menggunting lidah dan bibir mereka dengan gunting dari api. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah para penceramah penebar fitnah, mengajak orang kepada kesesatan, kerusakan, penipuan dan khiyanat.
6. Orang yang berbicara dengan perkataan yang menimbulkan bahaya dan fitnah
Rasulullah juga melihat sapi jantan yang keluar dari lubang yang sempit kemudian ingin masuk kembali ke lubang tersebut namun tidak bisa. Jibril berkata kepada beliau: “Itu adalah orang yang berbicara dengan perkataan yang merusak, membahayakan orang dan menimbulkan fitnah, kemudian ingin menariknya kembali, namun tidak bisa”.
7. Orang-orang yang tidak membayar zakat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, auratnya tertutup hanya dengan kain-kain kecil. Jibril berkata kepada beliau: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat.
8. Orang-orang yang meninggalkan shalat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang retak dan pecah kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berat kepalanya (meninggalkan) untuk menunaikan shalat”.
9. Para penzina
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang dari ummatmu yang meninggalkan perkara halal, justru mereka memilih perkara yang haram dan keji, lalu memakannya, mereka adalah para penzina.
10. Para peminum khamr
Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang keluar dari penzina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang diharamkan oleh Allah di dunia”.

11. Orang-orang yang melakukan ghibah
Rasulullah juga melihat orang-orang yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku-kuku dari tembaga. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menggunjing keburukan-keburukan orang”.
C. Pengertian Mi’raj
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah telah memuliakan Nabi Muhammad j dengan peristiwa mi’raj. Mi’raj adalah perjalanan yang dimulai dari Masjid al-Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh.
Kebenaran peristiwa Mi’raj juga telah ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih, sedangkan dalam al-Qur’an dijelaskan dari beberapa ayat yang mendekati nash sharih (tegas) tentang kejadian Mi’raj. Allah berfirman:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى.
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya terdapat surga.” (QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan dalam hadits Muslim bahwa ketika Rasul bersama Jibril sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu langit tersebut setelah terjadi percakapan antara Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali Rasul dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap langit yang tujuh. Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa, di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Peristiwa ini terjadi pada malam ke 27 Rajab sebelum hijrah.
Menurut Ibnu Abbas bahwa Rasulullah j melihat Tuhannya dua kali ketika mi’raj sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath. Demikian juga menurut Ibnu Khuzaimah: “Muhammad melihat Tuhannya.” Nabi melihat Tuhannya dengan hati sebagaimana hadits Muslim dari jalur Abu al-Aliyah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأٰى. أَفَتُمَارُوْنَه عَلٰى مَا يَرٰى. وَلَقَدْ رَأٰهُ نَزْلَةً أُخْرٰى.
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 11-13)
Dia (Ibnu Abbas) berkata: “Dia melihat Tuhannya dengan hati dua kali.”
Dalam hadits shahih yang sangat panjang riwayat Imam Muslim, Rasulullah j menjelaskan mengenai peristiwa isra’ dan mi’raj. Dalam hadits tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di sidratul muntaha beliau mendengar kalam Allah di antaranya berisi kewajiban shalat 50 kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian terjadilah dialog dengan Nabi Musa yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan dan akhirnya diwajibkan bagi umat Islam hanya lima kali shalat sehari semalam.
D. Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah j berada di suatu tempat yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi dari langit ketujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya, antara lain:
1. Malaikat Malik, Penjaga Neraka.
Di antara keajaiban yang dilihat oleh Nabi pada malam tersebut adalah Malaikat Malik; penjaga neraka. Malik tidak tersenyum kepada Rasulullah, maka beliau bertanya kepada Jibril kenapa tidak melihatnya tersenyum kepada Nabi seperti yang lain ?. Jibril menjawab: “Malik belum pernah tersenyum sejak diciptakan oleh Allah, seandainya Malik tersenyum kepada seseorang niscaya ia tersenyum kepadamu”.
2. Al-Bayt al-Makmur
Di langit ke tujuh Rasulullah melihat al-Bayt al-Ma’mur yaitu rumah yang dimuliakan. Bagi para malaikat penduduk langit, al-Bayt al-Ma’mur seperti halnya Ka’bah bagi penduduk bumi. Setiap hari al-Bayt al-Ma’mur dimasuki 70.000 malaikat yang melakukan shalat di sana , kemudian mereka keluar dan tidak pernah kembali lagi.
3. Sidrat al-Muntaha
Sidrat al-Muntaha adalah sebuah pohon yang amat besar dan indah, tak seorangpun di antara makhluk yang dapat menyifatinya (menjelaskan keindahannya secara detail). Akarnya di langit ke enam dan menjulang tinggi hingga ke langit ke tujuh, Rasulullah melihatnya di langit ke tujuh.
4. Surga
Surga adalah tempat kenikmatan yang disediakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Surga berada di atas langit ketujuh dan sekarang sudah ada. Di dalam surga, Rasulullah juga melihat al-Wildan al-Mukhalladun, yaitu makhluk yang diciptakan Allah untuk melayani penduduk surga. Mereka bukan malaikat, jin atau manusia, mereka juga tidak berbapak dan beribu. Rasulullah juga melihat bidadari. Jibril meminta Rasulullah mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka menjawab: Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi rupawan. Kami adalah isteri orang-orang yang mulia.”
5. ‘Arsy.
Kemudian Rasulullah melihat arsy yang merupakan makhluk Allah yang paling besar ukurannya, di sekeliling arsy terdapat para malaikat yang sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah. Arsy memiliki tiang-tiang seperti ranjang, yang dipikul oleh empat malaikat yang sangat besar bentuknya, dan pada hari kiamat dipikul oleh delapan malaikat. Rasulullah telah menggambarkan salah satu dari para malaikat pemikul arsy ini bahwa jarak antara daun telinga dan pundaknya adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbangnya burung yang terbang cepat. Kursi dibandingkan dengan arsy seperti halnya cincin di padang pasir yang luas. Rasulullah bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِى جَنْبِ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِى أَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ
“Tujuh langit (dan tujuh bumi) dibandingkan dengan kursi bagaikan cincin di padang pasir yang luas, dan bandingan arsy atas kursi seperti bandingan padang pasir tersebut dengan cincin.”
Arsy adalah makhluk pertama setelah air, kemudian disusul al-Qalam al-A’la, lalu al-Lauh al-Mahfuzh. Kemudian setelah al-Qalam al-A’la menulis di al-Lauh al-Mahfuzh segala hal yang telah terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat, setelah itu, 50 ribu tahun kemudian, Allah menciptakan langit dan bumi.
Imam al-Baihaqi mengatakan: “Para ahli tafsir menyatakan bahwa ‘Arsy adalah benda berbentuk sarir (ranjang) yang diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan para malaikat untuk menjunjungnya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka dengan mengelilingi dan mengagungkannya sebagaimana Ia menciptakan Ka’bah di bumi ini dan memerintahkan manusia untuk mengelilinginya ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di saat shalat.” (lihat al-Asma’ wa ash-Shifat, hlm. 497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ  يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya.” (Riwayat Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 333)

6. Sampainya Rasulullah ke sebuah tempat yang tinggi sehingga beliau mendengar suara pena para malaikat.
Setelah dari Sidrat al-Muntaha, Rasulullah tanpa ditemani Jibril meneruskan perjalanan naik hingga sampai ke tempat yang tinggi. Di sana, Rasulullah mendengar suara pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menyalin dari al-Lauh al-Mahfuzh ke lembaran-lembaran catatan mereka.
7. Rasulullah mendengar Kalam Allah yang Dzati, Azali dan Abadi.
Aqidah Ahlussunnah menyatakan bahwa Kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya adalah qadim dan azali, ada tanpa permulaan, tidak seperti kalam (pembicaraan) kita yang bermula dan berpenghabisan. Kalam Allah azali, bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena bahasa, huruf dan suara adalah makhluk, mustahil Allah bersifat dengan sifat yang diciptakan. Oleh karenanya kita meyakini bahwa Nabi Muhammad mendengar kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya yang azali tanpa suara, tanpa huruf dan bukan menempati telinga saat didengar. Pada malam yang penuh berkah tersebut, Allah membuka dari Rasulullah hijab yang yang menghalangi untuk mendengar kalam Allah yang azali dan abadi yang tidak seperti kalam makhluk. Rasulullah memahami dari kalam tersebut perintah-perintah Allah kepadanya, juga beberapa perkara yang diwahyukan kepada beliau. Allah –dengan kuasa-Nya- memperdengarkan Kalam-Nya kepada Rasulullah di tempat yang tinggi, yaitu di atas Sidrat al-Muntaha, karena tempat tersebut adalah tempat ibadah para malaikat kepada Allah, dan tempat yang belum pernah seorangpun berbuat maksiyat di sana, bukan karena tempat itu adalah tempat Allah berada, sebagaimana disebutkan dalam sebagian buku yang menyimpang, karena Allah ada tanpa tempat.
8. Rasulullah melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.
Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam peristiwa Mi’raj adalah bahwa Allah mengangkat dari hati Rasulullah hijab maknawi, sehingga ia melihat Allah dengan hatinya, yakni Allah menjadikan Rasulullah memiliki kekuatan melihat di hatinya, bukan dengan matanya, karena Allah tidak bisa dilihat dengan mata yang fana di dunia, Rasulullah j bersabda:
وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوْتُوْا
“Ketahuilah bahwa kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian meninggal.”
Allah akan dilihat di akhirat dengan mata yang kekal, orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya akan  melihat Allah tanpa menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya, tanpa tempat, tanpa arah, tanpa berhadap-hadapan, tanpa berlaku jarak, tanpa bersambungnya cahaya antara orang yang melihat dan Allah.
9. Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk aslinya
Rasulullah sebelumnya pernah melihat malaikat Jibril untuk pertama kali dalam bentuk aslinya di Makkah dan beliau pingsan saat melihatnya. Pada malam Mi’raj, Rasulullah kembali melihat malaikat Jibril untuk yang kedua kalinya dalam bentuk asli, namun beliau tidak pingsan karena keteguhan hati dan kekuatan beliau sudah semakin bertambah kuat.
E. Kejadian Setelah Isra’ Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan: Perjalanan isra’ dan mi’raj hingga kembalinya Rasul ke Mekah ditempuh dalam tempo sepertiga malam. Setelah itu Rasul mengabarkan kejadian tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada Abu Bakar untuk menanyakan hal itu, dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya mengatakan: “Aku mempercayainya ketika ia mengabarkan berita langit, kenapa aku tidak mempercayainya mengenai berita bumi ?.” Maka beliau diberi gelar ash-Shiddiq.
F. Kisah-kisah Tidak Berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat mi’raj, Allah mendekat kepada Rasulullah sehingga jarak antara keduanya adalah dua hasta atau lebih dekat lagi seperti anggapan sebagian orang. Yang benar adalah bahwa yang mendekat kepada Rasulullah adalah Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat an-Najm: 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan lainnya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril telah sampai pada suatu tempat setelah sidratul muntaha kemudian berkata kepada Nabi: “Di sinilah seorang kawan akan berpisah dengan kawan yang sangat dicintainya, seandainya aku terus naik, niscaya aku akan terbakar.” Ini adalah cerita dusta yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah pada saat mi’raj telah sampai di atas langit ke tujuh di suatu tempat di mana beliau mendengar kalam Allah, Nabi berkata: at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh Allah: as-Salamu ‘alayka Ayyuha an-Nabiyyu Warahmatullah Wabarakatuh, riwayat tersebut walaupun tertulis dalam beberapa kitab tentang peristiwa isra’ mi’raj dan disampaikan oleh beberapa orang dalam ceramah peringatan isra’ mi’raj adalah tidak benar, karena pada malam isra’ mi’raj shighat atau lafazh tahiyyat belum difardhukan. Hanya sebagian rawi-rawi pendusta yang meriwayatkan kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar di kalangan kaum muslimin, maka harus dijelaskan hal yang sebenarnya.

4. Riwayat tentang bacaan tasyahud atau tahiyat yang benar adalah sebagai berikut: “Pada awalnya sebagian para sahabat Rasulullah sebelum disyariatkan shighat tasyahhud, mereka mengucapkan dzikir atau bacaan:
اَلسَّلَامُ عَلٰى اللّٰهِ، اَلسَّلَامُ عَلٰى جِبْرِيْلَ، اَلسَّلَامُ عَلٰى مِيْكَائِيْلَ
Lalu Rasulullah j bersabda:
إِنَّ اللّهَٰ هُوَ السَّلَامُ
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada mereka untuk mengatakan:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga hidayah, taufiq dan inayah Allah senantiasa diberikan kepada kita sehingga keimanan kita semakin meningkat, aamiin.

Isra Mi'raz

<script data-ad-client="ca-pub-3071746343684673" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
ISRA’ MI’RAJ
A. Pengertian Isra’
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah memuliakan Nabi Muhammad dengan peristiwa Isra’ pada malam hari dari Makkah ke Masjid al-Aqsha. Peristiwa Isra’ ini terjadi pada hari senin tanggal 27 Rajab, satu tahun sebelum peristiwa hijrah. Para ulama’ dari generasi  salaf dan khalaf, dari kalangan ahli hadits, ulama’ kalam, ulama’ tafsir dan ulama’ fiqih telah sepakat bahwa Isra’ terjadi dengan jasad, ruh dan dalam keadaan terjaga dan bukan hanya sekedar mimpi. Peristiwa Isra’ ini dinyatakan di dalam al-Qur’an dan hadits shahih. Allah berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَه لِنُرِيَه مِنْ أٰيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[*] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.” (QS. Al-Isra’: 1)
[*] Maksudnya: al-Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya dapat berkah dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan tanahnya.
Perjalanan isra’ dimulai dari al-Masjid al-Haram setelah terlebih dahulu dada beliau dibelah dan dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan hikmah dan keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban ciptaan Allah dengan hati yang kuat. Pada saat itu beliau di Makkah. Jibril datang pada malam hari dengan membuka atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu atau yang lainnnya. Saat itu beliau sedang tertidur di antara pamannya, Hamzah dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah putri Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abi Thalib saudara perempuan Ali bin Abi Thalib di suatu perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril membangunkan Nabi kemudian pergi bersamanya menuju al-Masjid al-Haram. Bersama Malaikat Jibril beliau berangkat dengan Buraq; seekor binatang surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh pandangannya.

Di tengah perjalanan isra’ ini, Rasul melewati beberapa tempat bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota Madyan (kota Nabi Syuaib), bukit Thur Sina’ (tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah) dan Bayt Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di tiap-tiap tempat ini, Jibril selalu minta Rasul untuk turun dan melakukan shalat dua rakaat (HR. al-Baihaqi).

Setelah Rasul sampai di Bayt al-Maqdis (al-Masjid al-Aqsha), Rasul bersama para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa, melakukan shalat berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam. Allah mempertemukannya dengan seluruh para nabi di sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah membangkitkan para nabi yang sebelumnya telah wafat kecuali Nabi Isa (sebab beliau masih hidup di langit hingga sekarang). Kemudian Allah menambahkan kemuliaan untuk Nabi-Nya dengan mengangkat delapan nabi yaitu Adam, Isa, Yusuf, Idris, Harun, Musa dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut Rasulullah di sana.
B. Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang disaksikan Rasulullah j ketika Isra’ adalah:
1. Dunia
Rasulullah melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua renta. Hal ini menggambarkan bahwa dunia dengan segala isinya yang menggairahkan akan lenyap dan fana’, sebagaimana seorang wanita yang ketika mudanya sangat cantik dan menawan, akan hilang kecantikannya ketika menjelang tua.
2. Iblis
Rasulullah melihat sesosok makhluk yang menyingkir dari bahu jalan seraya memanggilnya, dia adalah Iblis. Pada mulanya Iblis adalah jin muslim, kemudian ia menjadi kafir karena melakukan protes terhadap perintah Allah.
3. Tukang sisir (Masyithah) putri Fir’aun
Kemudian Rasulullah mencium aroma wangi dari kuburan tukang sisir putri Fir’aun. Perempuan yang menjadi tukang sisir ini adalah perempuan muslimah dan shalehah. Dalam kisahnya bahwa suatu ketika perempuan ini tengah menyisir rambut putri Fir’aun, jatuhlah sisir dari tangannya, maka ia mengucapkan: “Bismillah”. Putri Fir’aun bertanya kepadanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain ayahku ?”. Tukang sisir itu menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhan bapakmu adalah Allah”. Maka putri Fir’aun memberitahukan kepada ayahnya, lalu Fir’aun meminta tukang sisir tersebut untuk meninggalkan agamanya, namun tukang sisir tersebut menolak. Kemudian Fir’aun memanaskan air di suatu tempat dan melemparkan anak-anaknya ke air panas tersebut, kemudian anaknya yang masih menyusu berkata kepadanya sebelum dilemparkan oleh Fir’aun: “Wahai ibuku, bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia, janganlah engkau gentar dan mundur, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”Tukang sisir itu berkata kepada Fir’aun: “Aku punya permintaan kepadamu, agar engkau kumpulkan tulang-tulang kami dan dikuburkan”, Fir’aun mengatakan: “Ya”, kemudian Fir’aun melemparnya. Perempuan tersebut dan anak-anaknya akhirnya mati syahid.
4. Para mujahid di jalan Allah
Rasulullah melihat sekelompok kaum yang menanam dan menuai hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah.”
5. Para penceramah pembawa fitnah
Rasulullah melihat mereka menggunting lidah dan bibir mereka dengan gunting dari api. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah para penceramah penebar fitnah, mengajak orang kepada kesesatan, kerusakan, penipuan dan khiyanat.
6. Orang yang berbicara dengan perkataan yang menimbulkan bahaya dan fitnah
Rasulullah juga melihat sapi jantan yang keluar dari lubang yang sempit kemudian ingin masuk kembali ke lubang tersebut namun tidak bisa. Jibril berkata kepada beliau: “Itu adalah orang yang berbicara dengan perkataan yang merusak, membahayakan orang dan menimbulkan fitnah, kemudian ingin menariknya kembali, namun tidak bisa”.
7. Orang-orang yang tidak membayar zakat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang menyebar seperti binatang-binatang ternak, auratnya tertutup hanya dengan kain-kain kecil. Jibril berkata kepada beliau: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat.
8. Orang-orang yang meninggalkan shalat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang retak dan pecah kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang berat kepalanya (meninggalkan) untuk menunaikan shalat”.
9. Para penzina
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang dari ummatmu yang meninggalkan perkara halal, justru mereka memilih perkara yang haram dan keji, lalu memakannya, mereka adalah para penzina.
10. Para peminum khamr
Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang keluar dari penzina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang diharamkan oleh Allah di dunia”.

11. Orang-orang yang melakukan ghibah
Rasulullah juga melihat orang-orang yang mencakar muka dan dada mereka dengan kuku-kuku dari tembaga. Jibril berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menggunjing keburukan-keburukan orang”.
C. Pengertian Mi’raj
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah telah memuliakan Nabi Muhammad j dengan peristiwa mi’raj. Mi’raj adalah perjalanan yang dimulai dari Masjid al-Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh.
Kebenaran peristiwa Mi’raj juga telah ditegaskan dalam hadits-hadits yang shahih, sedangkan dalam al-Qur’an dijelaskan dari beberapa ayat yang mendekati nash sharih (tegas) tentang kejadian Mi’raj. Allah berfirman:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى.
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di dekatnya terdapat surga.” (QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan dalam hadits Muslim bahwa ketika Rasul bersama Jibril sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu langit tersebut setelah terjadi percakapan antara Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali Rasul dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap langit yang tujuh. Di langit pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa, di langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa dan di langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Peristiwa ini terjadi pada malam ke 27 Rajab sebelum hijrah.
Menurut Ibnu Abbas bahwa Rasulullah j melihat Tuhannya dua kali ketika mi’raj sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath. Demikian juga menurut Ibnu Khuzaimah: “Muhammad melihat Tuhannya.” Nabi melihat Tuhannya dengan hati sebagaimana hadits Muslim dari jalur Abu al-Aliyah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأٰى. أَفَتُمَارُوْنَه عَلٰى مَا يَرٰى. وَلَقَدْ رَأٰهُ نَزْلَةً أُخْرٰى.
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya?. Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 11-13)
Dia (Ibnu Abbas) berkata: “Dia melihat Tuhannya dengan hati dua kali.”
Dalam hadits shahih yang sangat panjang riwayat Imam Muslim, Rasulullah j menjelaskan mengenai peristiwa isra’ dan mi’raj. Dalam hadits tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di sidratul muntaha beliau mendengar kalam Allah di antaranya berisi kewajiban shalat 50 kali dalam sehari semalam bagi umatnya. Kemudian terjadilah dialog dengan Nabi Musa yang menganjurkan agar Nabi meminta keringanan dan akhirnya diwajibkan bagi umat Islam hanya lima kali shalat sehari semalam.
D. Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah j berada di suatu tempat yang berada di atas (suatu tempat yang lebih tinggi dari langit ketujuh), beliau diperlihatkan oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya, antara lain:
1. Malaikat Malik, Penjaga Neraka.
Di antara keajaiban yang dilihat oleh Nabi pada malam tersebut adalah Malaikat Malik; penjaga neraka. Malik tidak tersenyum kepada Rasulullah, maka beliau bertanya kepada Jibril kenapa tidak melihatnya tersenyum kepada Nabi seperti yang lain ?. Jibril menjawab: “Malik belum pernah tersenyum sejak diciptakan oleh Allah, seandainya Malik tersenyum kepada seseorang niscaya ia tersenyum kepadamu”.
2. Al-Bayt al-Makmur
Di langit ke tujuh Rasulullah melihat al-Bayt al-Ma’mur yaitu rumah yang dimuliakan. Bagi para malaikat penduduk langit, al-Bayt al-Ma’mur seperti halnya Ka’bah bagi penduduk bumi. Setiap hari al-Bayt al-Ma’mur dimasuki 70.000 malaikat yang melakukan shalat di sana , kemudian mereka keluar dan tidak pernah kembali lagi.
3. Sidrat al-Muntaha
Sidrat al-Muntaha adalah sebuah pohon yang amat besar dan indah, tak seorangpun di antara makhluk yang dapat menyifatinya (menjelaskan keindahannya secara detail). Akarnya di langit ke enam dan menjulang tinggi hingga ke langit ke tujuh, Rasulullah melihatnya di langit ke tujuh.
4. Surga
Surga adalah tempat kenikmatan yang disediakan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Surga berada di atas langit ketujuh dan sekarang sudah ada. Di dalam surga, Rasulullah juga melihat al-Wildan al-Mukhalladun, yaitu makhluk yang diciptakan Allah untuk melayani penduduk surga. Mereka bukan malaikat, jin atau manusia, mereka juga tidak berbapak dan beribu. Rasulullah juga melihat bidadari. Jibril meminta Rasulullah mengucapkan salam kepada mereka, dan mereka menjawab: Kami adalah wanita yang baik budi pekerti lagi rupawan. Kami adalah isteri orang-orang yang mulia.”
5. ‘Arsy.
Kemudian Rasulullah melihat arsy yang merupakan makhluk Allah yang paling besar ukurannya, di sekeliling arsy terdapat para malaikat yang sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah. Arsy memiliki tiang-tiang seperti ranjang, yang dipikul oleh empat malaikat yang sangat besar bentuknya, dan pada hari kiamat dipikul oleh delapan malaikat. Rasulullah telah menggambarkan salah satu dari para malaikat pemikul arsy ini bahwa jarak antara daun telinga dan pundaknya adalah jarak perjalanan 700 tahun dengan kecepatan terbangnya burung yang terbang cepat. Kursi dibandingkan dengan arsy seperti halnya cincin di padang pasir yang luas. Rasulullah bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِى جَنْبِ الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِى أَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ
“Tujuh langit (dan tujuh bumi) dibandingkan dengan kursi bagaikan cincin di padang pasir yang luas, dan bandingan arsy atas kursi seperti bandingan padang pasir tersebut dengan cincin.”
Arsy adalah makhluk pertama setelah air, kemudian disusul al-Qalam al-A’la, lalu al-Lauh al-Mahfuzh. Kemudian setelah al-Qalam al-A’la menulis di al-Lauh al-Mahfuzh segala hal yang telah terjadi dan akan terjadi hingga hari kiamat, setelah itu, 50 ribu tahun kemudian, Allah menciptakan langit dan bumi.
Imam al-Baihaqi mengatakan: “Para ahli tafsir menyatakan bahwa ‘Arsy adalah benda berbentuk sarir (ranjang) yang diciptakan oleh Allah. Allah memerintahkan para malaikat untuk menjunjungnya dan menjadikannya sebagai tempat ibadah mereka dengan mengelilingi dan mengagungkannya sebagaimana Ia menciptakan Ka’bah di bumi ini dan memerintahkan manusia untuk mengelilinginya ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di saat shalat.” (lihat al-Asma’ wa ash-Shifat, hlm. 497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena Allah tidak membutuhkan tempat. Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ  يَتَّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya.” (Riwayat Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 333)

6. Sampainya Rasulullah ke sebuah tempat yang tinggi sehingga beliau mendengar suara pena para malaikat.
Setelah dari Sidrat al-Muntaha, Rasulullah tanpa ditemani Jibril meneruskan perjalanan naik hingga sampai ke tempat yang tinggi. Di sana, Rasulullah mendengar suara pena yang digunakan oleh para malaikat untuk menyalin dari al-Lauh al-Mahfuzh ke lembaran-lembaran catatan mereka.
7. Rasulullah mendengar Kalam Allah yang Dzati, Azali dan Abadi.
Aqidah Ahlussunnah menyatakan bahwa Kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya adalah qadim dan azali, ada tanpa permulaan, tidak seperti kalam (pembicaraan) kita yang bermula dan berpenghabisan. Kalam Allah azali, bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena bahasa, huruf dan suara adalah makhluk, mustahil Allah bersifat dengan sifat yang diciptakan. Oleh karenanya kita meyakini bahwa Nabi Muhammad mendengar kalam Allah yang merupakan sifat Dzat-Nya yang azali tanpa suara, tanpa huruf dan bukan menempati telinga saat didengar. Pada malam yang penuh berkah tersebut, Allah membuka dari Rasulullah hijab yang yang menghalangi untuk mendengar kalam Allah yang azali dan abadi yang tidak seperti kalam makhluk. Rasulullah memahami dari kalam tersebut perintah-perintah Allah kepadanya, juga beberapa perkara yang diwahyukan kepada beliau. Allah –dengan kuasa-Nya- memperdengarkan Kalam-Nya kepada Rasulullah di tempat yang tinggi, yaitu di atas Sidrat al-Muntaha, karena tempat tersebut adalah tempat ibadah para malaikat kepada Allah, dan tempat yang belum pernah seorangpun berbuat maksiyat di sana, bukan karena tempat itu adalah tempat Allah berada, sebagaimana disebutkan dalam sebagian buku yang menyimpang, karena Allah ada tanpa tempat.
8. Rasulullah melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan matanya.
Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad dalam peristiwa Mi’raj adalah bahwa Allah mengangkat dari hati Rasulullah hijab maknawi, sehingga ia melihat Allah dengan hatinya, yakni Allah menjadikan Rasulullah memiliki kekuatan melihat di hatinya, bukan dengan matanya, karena Allah tidak bisa dilihat dengan mata yang fana di dunia, Rasulullah j bersabda:
وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوْتُوْا
“Ketahuilah bahwa kalian tidak akan melihat Tuhan kalian hingga kalian meninggal.”
Allah akan dilihat di akhirat dengan mata yang kekal, orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya akan  melihat Allah tanpa menyerupai sesuatu pun di antara makhluk-Nya, tanpa tempat, tanpa arah, tanpa berhadap-hadapan, tanpa berlaku jarak, tanpa bersambungnya cahaya antara orang yang melihat dan Allah.
9. Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk aslinya
Rasulullah sebelumnya pernah melihat malaikat Jibril untuk pertama kali dalam bentuk aslinya di Makkah dan beliau pingsan saat melihatnya. Pada malam Mi’raj, Rasulullah kembali melihat malaikat Jibril untuk yang kedua kalinya dalam bentuk asli, namun beliau tidak pingsan karena keteguhan hati dan kekuatan beliau sudah semakin bertambah kuat.
E. Kejadian Setelah Isra’ Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan: Perjalanan isra’ dan mi’raj hingga kembalinya Rasul ke Mekah ditempuh dalam tempo sepertiga malam. Setelah itu Rasul mengabarkan kejadian tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun mereka tidak percaya. Lalu mereka datang kepada Abu Bakar untuk menanyakan hal itu, dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya mengatakan: “Aku mempercayainya ketika ia mengabarkan berita langit, kenapa aku tidak mempercayainya mengenai berita bumi ?.” Maka beliau diberi gelar ash-Shiddiq.
F. Kisah-kisah Tidak Berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat mi’raj, Allah mendekat kepada Rasulullah sehingga jarak antara keduanya adalah dua hasta atau lebih dekat lagi seperti anggapan sebagian orang. Yang benar adalah bahwa yang mendekat kepada Rasulullah adalah Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat an-Najm: 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan lainnya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril telah sampai pada suatu tempat setelah sidratul muntaha kemudian berkata kepada Nabi: “Di sinilah seorang kawan akan berpisah dengan kawan yang sangat dicintainya, seandainya aku terus naik, niscaya aku akan terbakar.” Ini adalah cerita dusta yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah pada saat mi’raj telah sampai di atas langit ke tujuh di suatu tempat di mana beliau mendengar kalam Allah, Nabi berkata: at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh Allah: as-Salamu ‘alayka Ayyuha an-Nabiyyu Warahmatullah Wabarakatuh, riwayat tersebut walaupun tertulis dalam beberapa kitab tentang peristiwa isra’ mi’raj dan disampaikan oleh beberapa orang dalam ceramah peringatan isra’ mi’raj adalah tidak benar, karena pada malam isra’ mi’raj shighat atau lafazh tahiyyat belum difardhukan. Hanya sebagian rawi-rawi pendusta yang meriwayatkan kisah tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar di kalangan kaum muslimin, maka harus dijelaskan hal yang sebenarnya.

4. Riwayat tentang bacaan tasyahud atau tahiyat yang benar adalah sebagai berikut: “Pada awalnya sebagian para sahabat Rasulullah sebelum disyariatkan shighat tasyahhud, mereka mengucapkan dzikir atau bacaan:
اَلسَّلَامُ عَلٰى اللّٰهِ، اَلسَّلَامُ عَلٰى جِبْرِيْلَ، اَلسَّلَامُ عَلٰى مِيْكَائِيْلَ
Lalu Rasulullah j bersabda:
إِنَّ اللّهَٰ هُوَ السَّلَامُ
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada mereka untuk mengatakan:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Semoga hidayah, taufiq dan inayah Allah senantiasa diberikan kepada kita sehingga keimanan kita semakin meningkat, aamiin.