ISRA’ MI’RAJ
A. Pengertian Isra’
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah memuliakan
Nabi Muhammad dengan peristiwa Isra’ pada malam hari dari Makkah ke Masjid
al-Aqsha. Peristiwa Isra’ ini terjadi pada hari senin tanggal 27 Rajab, satu
tahun sebelum peristiwa hijrah. Para ulama’ dari generasi salaf dan khalaf, dari kalangan ahli hadits,
ulama’ kalam, ulama’ tafsir dan ulama’ fiqih telah sepakat bahwa Isra’ terjadi
dengan jasad, ruh dan dalam keadaan terjaga dan bukan hanya sekedar mimpi.
Peristiwa Isra’ ini dinyatakan di dalam al-Qur’an dan hadits shahih. Allah
berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرٰى بِعَبْدِه لَيْلًا
مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِيْ بَارَكْنَا حَوْلَه
لِنُرِيَه مِنْ أٰيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
“Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari al-Masjidil Haram ke al-Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi
sekelilingnya[*] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.”
(QS. Al-Isra’: 1)
[*] Maksudnya: al-Masjidil Aqsha dan daerah-daerah sekitarnya
dapat berkah dari Allah dengan diturunkan nabi-nabi di negeri itu dan kesuburan
tanahnya.
Perjalanan isra’ dimulai dari al-Masjid al-Haram setelah
terlebih dahulu dada beliau dibelah dan dicuci hatinya untuk dipenuhi dengan
hikmah dan keimanan, agar beliau siap untuk menyaksikan keajaiban-keajaiban
ciptaan Allah dengan hati yang kuat. Pada saat itu beliau di Makkah. Jibril
datang pada malam hari dengan membuka atap rumah tanpa menjatuhkan debu, batu
atau yang lainnnya. Saat itu beliau sedang tertidur di antara pamannya, Hamzah
dan sepupunya Ja’far bin Abi Thalib. Mereka semua sedang berada di rumah putri
Abu Thalib, Ummu Hani’ binti Abi Thalib saudara perempuan Ali bin Abi Thalib di
suatu perkampungan yang bernama Ajyad. Jibril membangunkan Nabi kemudian pergi
bersamanya menuju al-Masjid al-Haram. Bersama Malaikat Jibril beliau berangkat
dengan Buraq; seekor binatang surga yang bentuknya lebih besar dari keledai dan
lebih kecil dari kuda yang mampu melompat sejauh pandangannya.
Di tengah perjalanan isra’ ini, Rasul melewati beberapa
tempat bersejarah, antara lain kota Yatsrib (Madinah), kota Madyan (kota Nabi
Syuaib), bukit Thur Sina’ (tempat Nabi Musa mendapat wahyu dari Allah) dan Bayt
Lahm (tempat Nabi Isa dilahirkan). Di tiap-tiap tempat ini, Jibril selalu minta
Rasul untuk turun dan melakukan shalat dua rakaat (HR. al-Baihaqi).
Setelah Rasul sampai di Bayt al-Maqdis (al-Masjid al-Aqsha),
Rasul bersama para nabi mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa, melakukan shalat
berjama’ah dan beliau bertindak sebagai imam. Allah mempertemukannya dengan
seluruh para nabi di sana sebagai penghormatan kepada beliau. Allah
membangkitkan para nabi yang sebelumnya telah wafat kecuali Nabi Isa (sebab
beliau masih hidup di langit hingga sekarang). Kemudian Allah menambahkan
kemuliaan untuk Nabi-Nya dengan mengangkat delapan nabi yaitu Adam, Isa, Yusuf,
Idris, Harun, Musa dan Ibrahim ke langit dan mereka menyambut Rasulullah di
sana.
B. Keajaiban-keajaiban Isra’
Di antara keajaiban ciptaan Allah yang disaksikan Rasulullah
j ketika Isra’ adalah:
1. Dunia
Rasulullah melihatnya dalam bentuk seorang wanita tua renta.
Hal ini menggambarkan bahwa dunia dengan segala isinya yang menggairahkan akan
lenyap dan fana’, sebagaimana seorang wanita yang ketika mudanya sangat cantik
dan menawan, akan hilang kecantikannya ketika menjelang tua.
2. Iblis
Rasulullah melihat sesosok makhluk yang menyingkir dari bahu
jalan seraya memanggilnya, dia adalah Iblis. Pada mulanya Iblis adalah jin
muslim, kemudian ia menjadi kafir karena melakukan protes terhadap perintah
Allah.
3. Tukang sisir (Masyithah) putri Fir’aun
Kemudian Rasulullah mencium aroma wangi dari kuburan tukang
sisir putri Fir’aun. Perempuan yang menjadi tukang sisir ini adalah perempuan
muslimah dan shalehah. Dalam kisahnya bahwa suatu ketika perempuan ini tengah
menyisir rambut putri Fir’aun, jatuhlah sisir dari tangannya, maka ia
mengucapkan: “Bismillah”. Putri Fir’aun bertanya kepadanya: “Apakah kamu
memiliki Tuhan selain ayahku ?”. Tukang sisir itu menjawab: “Ya, Tuhanku dan
Tuhan bapakmu adalah Allah”. Maka putri Fir’aun memberitahukan kepada ayahnya,
lalu Fir’aun meminta tukang sisir tersebut untuk meninggalkan agamanya, namun
tukang sisir tersebut menolak. Kemudian Fir’aun memanaskan air di suatu tempat
dan melemparkan anak-anaknya ke air panas tersebut, kemudian anaknya yang masih
menyusu berkata kepadanya sebelum dilemparkan oleh Fir’aun: “Wahai ibuku,
bersabarlah karena siksa akhirat lebih pedih dari siksa dunia, janganlah engkau
gentar dan mundur, sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”Tukang sisir itu
berkata kepada Fir’aun: “Aku punya permintaan kepadamu, agar engkau kumpulkan
tulang-tulang kami dan dikuburkan”, Fir’aun mengatakan: “Ya”, kemudian Fir’aun
melemparnya. Perempuan tersebut dan anak-anaknya akhirnya mati syahid.
4. Para mujahid di jalan Allah
Rasulullah melihat sekelompok kaum yang menanam dan menuai
hasilnya dalam tempo 2 hari. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah
orang-orang yang berjuang di jalan Allah.”
5. Para penceramah pembawa fitnah
Rasulullah melihat mereka menggunting lidah dan bibir mereka
dengan gunting dari api. Jibril berkata kepadanya: “Mereka adalah para
penceramah penebar fitnah, mengajak orang kepada kesesatan, kerusakan, penipuan
dan khiyanat.
6. Orang yang berbicara dengan perkataan yang menimbulkan
bahaya dan fitnah
Rasulullah juga melihat sapi jantan yang keluar dari lubang
yang sempit kemudian ingin masuk kembali ke lubang tersebut namun tidak bisa.
Jibril berkata kepada beliau: “Itu adalah orang yang berbicara dengan perkataan
yang merusak, membahayakan orang dan menimbulkan fitnah, kemudian ingin
menariknya kembali, namun tidak bisa”.
7. Orang-orang yang tidak membayar zakat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang menyebar seperti
binatang-binatang ternak, auratnya tertutup hanya dengan kain-kain kecil.
Jibril berkata kepada beliau: “Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan
zakat.
8. Orang-orang yang meninggalkan shalat
Rasulullah juga melihat orang-orang yang retak dan pecah
kepalanya, kemudian kembali seperti semula. Jibril berkata: “Mereka adalah
orang-orang yang berat kepalanya (meninggalkan) untuk menunaikan shalat”.
9. Para penzina
Rasulullah juga melihat orang-orang yang memperebutkan daging
busuk dan mengabaikan daging bagus yang sudah terpotong-potong. Jibril berkata:
“Mereka adalah orang-orang dari ummatmu yang meninggalkan perkara halal, justru
mereka memilih perkara yang haram dan keji, lalu memakannya, mereka adalah para
penzina.
10. Para peminum khamr
Rasulullah juga melihat orang-orang yang meminum nanah yang
keluar dari penzina. Jibril berkata: “Mereka adalah para peminum khamr yang
diharamkan oleh Allah di dunia”.
11. Orang-orang yang melakukan ghibah
Rasulullah juga melihat orang-orang yang mencakar muka dan
dada mereka dengan kuku-kuku dari tembaga. Jibril berkata: “Mereka adalah
orang-orang yang menggunjing keburukan-keburukan orang”.
C. Pengertian Mi’raj
Setiap orang mukallaf wajib meyakini bahwa Allah telah
memuliakan Nabi Muhammad j dengan peristiwa mi’raj. Mi’raj adalah perjalanan
yang dimulai dari Masjid al-Aqsha hingga ke atas langit ke tujuh.
Kebenaran peristiwa Mi’raj juga telah ditegaskan dalam
hadits-hadits yang shahih, sedangkan dalam al-Qur’an dijelaskan dari beberapa
ayat yang mendekati nash sharih (tegas) tentang kejadian Mi’raj. Allah
berfirman:
وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ
سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى.
“Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam
rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha, di
dekatnya terdapat surga.” (QS. An-Najm: 13-15)
Disebutkan dalam hadits Muslim bahwa ketika Rasul bersama
Jibril sampai pada langit yang pertama, dibukalah pintu langit tersebut setelah
terjadi percakapan antara Jibril dan penjaga pintu. Hal ini terjadi setiap kali
Rasul dan Jibril hendak memasuki tiap-tiap langit yang tujuh. Di langit
pertama, Rasulullah bertemu Nabi Adam, di langit kedua bertemu Nabi Isa, di
langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat bertemu Nabi Idris, di
langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam bertemu Nabi Musa dan di
langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Peristiwa ini terjadi pada malam ke 27
Rajab sebelum hijrah.
Menurut Ibnu Abbas bahwa Rasulullah j melihat Tuhannya dua
kali ketika mi’raj sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam
al-Mu’jam al-Awsath. Demikian juga menurut Ibnu Khuzaimah: “Muhammad melihat
Tuhannya.” Nabi melihat Tuhannya dengan hati sebagaimana hadits Muslim dari jalur
Abu al-Aliyah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah:
مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأٰى. أَفَتُمَارُوْنَه
عَلٰى مَا يَرٰى. وَلَقَدْ رَأٰهُ نَزْلَةً أُخْرٰى.
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka
Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah
dilihatnya?. Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya
yang asli) pada waktu yang lain.” (QS. An-Najm: 11-13)
Dia (Ibnu Abbas) berkata: “Dia melihat Tuhannya dengan hati
dua kali.”
Dalam hadits shahih yang sangat panjang riwayat Imam Muslim,
Rasulullah j menjelaskan mengenai peristiwa isra’ dan mi’raj. Dalam hadits
tersebut diriwayatkan bahwa ketika Nabi berada di sidratul muntaha beliau
mendengar kalam Allah di antaranya berisi kewajiban shalat 50 kali dalam sehari
semalam bagi umatnya. Kemudian terjadilah dialog dengan Nabi Musa yang
menganjurkan agar Nabi meminta keringanan dan akhirnya diwajibkan bagi umat
Islam hanya lima kali shalat sehari semalam.
D. Keajaiban-keajaiban Mi’raj
Ketika Rasulullah j berada di suatu tempat yang berada di
atas (suatu tempat yang lebih tinggi dari langit ketujuh), beliau diperlihatkan
oleh Allah beberapa keajaiban ciptaan-Nya, antara lain:
1. Malaikat Malik, Penjaga Neraka.
Di antara keajaiban yang dilihat oleh Nabi pada malam
tersebut adalah Malaikat Malik; penjaga neraka. Malik tidak tersenyum kepada
Rasulullah, maka beliau bertanya kepada Jibril kenapa tidak melihatnya tersenyum
kepada Nabi seperti yang lain ?. Jibril menjawab: “Malik belum pernah tersenyum
sejak diciptakan oleh Allah, seandainya Malik tersenyum kepada seseorang
niscaya ia tersenyum kepadamu”.
2. Al-Bayt al-Makmur
Di langit ke tujuh Rasulullah melihat al-Bayt al-Ma’mur yaitu
rumah yang dimuliakan. Bagi para malaikat penduduk langit, al-Bayt al-Ma’mur
seperti halnya Ka’bah bagi penduduk bumi. Setiap hari al-Bayt al-Ma’mur
dimasuki 70.000 malaikat yang melakukan shalat di sana , kemudian mereka keluar
dan tidak pernah kembali lagi.
3. Sidrat al-Muntaha
Sidrat al-Muntaha adalah sebuah pohon yang amat besar dan
indah, tak seorangpun di antara makhluk yang dapat menyifatinya (menjelaskan
keindahannya secara detail). Akarnya di langit ke enam dan menjulang tinggi hingga
ke langit ke tujuh, Rasulullah melihatnya di langit ke tujuh.
4. Surga
Surga adalah tempat kenikmatan yang disediakan oleh Allah
untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Surga berada di atas langit ketujuh dan
sekarang sudah ada. Di dalam surga, Rasulullah juga melihat al-Wildan
al-Mukhalladun, yaitu makhluk yang diciptakan Allah untuk melayani penduduk
surga. Mereka bukan malaikat, jin atau manusia, mereka juga tidak berbapak dan
beribu. Rasulullah juga melihat bidadari. Jibril meminta Rasulullah mengucapkan
salam kepada mereka, dan mereka menjawab: Kami adalah wanita yang baik budi
pekerti lagi rupawan. Kami adalah isteri orang-orang yang mulia.”
5. ‘Arsy.
Kemudian Rasulullah melihat arsy yang merupakan makhluk Allah
yang paling besar ukurannya, di sekeliling arsy terdapat para malaikat yang
sangat banyak dan tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah. Arsy
memiliki tiang-tiang seperti ranjang, yang dipikul oleh empat malaikat yang
sangat besar bentuknya, dan pada hari kiamat dipikul oleh delapan malaikat.
Rasulullah telah menggambarkan salah satu dari para malaikat pemikul arsy ini
bahwa jarak antara daun telinga dan pundaknya adalah jarak perjalanan 700 tahun
dengan kecepatan terbangnya burung yang terbang cepat. Kursi dibandingkan
dengan arsy seperti halnya cincin di padang pasir yang luas. Rasulullah
bersabda:
مَا السَّمَوَاتُ السَّبْعُ فِى جَنْبِ
الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ فِى أَرْضٍ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ
كَفَضْلِ الْفَلَاةِ عَلَى الْحَلْقَةِ
“Tujuh langit (dan tujuh bumi) dibandingkan dengan kursi
bagaikan cincin di padang pasir yang luas, dan bandingan arsy atas kursi
seperti bandingan padang pasir tersebut dengan cincin.”
Arsy adalah makhluk pertama setelah air, kemudian disusul
al-Qalam al-A’la, lalu al-Lauh al-Mahfuzh. Kemudian setelah al-Qalam al-A’la
menulis di al-Lauh al-Mahfuzh segala hal yang telah terjadi dan akan terjadi
hingga hari kiamat, setelah itu, 50 ribu tahun kemudian, Allah menciptakan
langit dan bumi.
Imam al-Baihaqi mengatakan: “Para ahli tafsir menyatakan
bahwa ‘Arsy adalah benda berbentuk sarir (ranjang) yang diciptakan oleh Allah.
Allah memerintahkan para malaikat untuk menjunjungnya dan menjadikannya sebagai
tempat ibadah mereka dengan mengelilingi dan mengagungkannya sebagaimana Ia
menciptakan Ka’bah di bumi ini dan memerintahkan manusia untuk mengelilinginya
ketika thawaf dan menghadap ke arahnya di saat shalat.” (lihat al-Asma’ wa
ash-Shifat, hlm. 497). ‘Arsy bukanlah tempat bagi Allah, karena Allah tidak
membutuhkan tempat. Sayyidina Ali berkata:
إِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْعَرْشَ إِظْهَارًا
لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذْهُ مَكَانًا
لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy untuk menunjukkan
kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya.” (Riwayat Abu
Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq bayn al-Firaq, hlm. 333)
6. Sampainya Rasulullah ke sebuah tempat yang tinggi sehingga
beliau mendengar suara pena para malaikat.
Setelah dari Sidrat al-Muntaha, Rasulullah tanpa ditemani
Jibril meneruskan perjalanan naik hingga sampai ke tempat yang tinggi. Di sana,
Rasulullah mendengar suara pena yang digunakan oleh para malaikat untuk
menyalin dari al-Lauh al-Mahfuzh ke lembaran-lembaran catatan mereka.
7. Rasulullah mendengar Kalam Allah yang Dzati, Azali dan
Abadi.
Aqidah Ahlussunnah menyatakan bahwa Kalam Allah yang
merupakan sifat Dzat-Nya adalah qadim dan azali, ada tanpa permulaan, tidak
seperti kalam (pembicaraan) kita yang bermula dan berpenghabisan. Kalam Allah
azali, bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa, karena bahasa, huruf dan
suara adalah makhluk, mustahil Allah bersifat dengan sifat yang diciptakan.
Oleh karenanya kita meyakini bahwa Nabi Muhammad mendengar kalam Allah yang
merupakan sifat Dzat-Nya yang azali tanpa suara, tanpa huruf dan bukan
menempati telinga saat didengar. Pada malam yang penuh berkah tersebut, Allah
membuka dari Rasulullah hijab yang yang menghalangi untuk mendengar kalam Allah
yang azali dan abadi yang tidak seperti kalam makhluk. Rasulullah memahami dari
kalam tersebut perintah-perintah Allah kepadanya, juga beberapa perkara yang
diwahyukan kepada beliau. Allah –dengan kuasa-Nya- memperdengarkan Kalam-Nya
kepada Rasulullah di tempat yang tinggi, yaitu di atas Sidrat al-Muntaha,
karena tempat tersebut adalah tempat ibadah para malaikat kepada Allah, dan
tempat yang belum pernah seorangpun berbuat maksiyat di sana, bukan karena
tempat itu adalah tempat Allah berada, sebagaimana disebutkan dalam sebagian
buku yang menyimpang, karena Allah ada tanpa tempat.
8. Rasulullah melihat Allah dengan hatinya, bukan dengan
matanya.
Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad
dalam peristiwa Mi’raj adalah bahwa Allah mengangkat dari hati Rasulullah hijab
maknawi, sehingga ia melihat Allah dengan hatinya, yakni Allah menjadikan
Rasulullah memiliki kekuatan melihat di hatinya, bukan dengan matanya, karena
Allah tidak bisa dilihat dengan mata yang fana di dunia, Rasulullah j bersabda:
وَاعْلَمُوْا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ
حَتَّى تَمُوْتُوْا
“Ketahuilah bahwa kalian tidak akan melihat Tuhan kalian
hingga kalian meninggal.”
Allah akan dilihat di akhirat dengan mata yang kekal,
orang-orang mukmin yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya akan melihat Allah tanpa menyerupai sesuatu pun di
antara makhluk-Nya, tanpa tempat, tanpa arah, tanpa berhadap-hadapan, tanpa
berlaku jarak, tanpa bersambungnya cahaya antara orang yang melihat dan Allah.
9. Rasulullah melihat Jibril dalam bentuk aslinya
Rasulullah sebelumnya pernah melihat malaikat Jibril untuk
pertama kali dalam bentuk aslinya di Makkah dan beliau pingsan saat melihatnya.
Pada malam Mi’raj, Rasulullah kembali melihat malaikat Jibril untuk yang kedua
kalinya dalam bentuk asli, namun beliau tidak pingsan karena keteguhan hati dan
kekuatan beliau sudah semakin bertambah kuat.
E. Kejadian Setelah Isra’ Mi’raj
Sebagian ulama’ mengatakan: Perjalanan isra’ dan mi’raj
hingga kembalinya Rasul ke Mekah ditempuh dalam tempo sepertiga malam. Setelah
itu Rasul mengabarkan kejadian tersebut kepada kaum kafir Quraisy, namun mereka
tidak percaya. Lalu mereka datang kepada Abu Bakar untuk menanyakan hal itu,
dan beliau membenarkan cerita Rasulullah seraya mengatakan: “Aku mempercayainya
ketika ia mengabarkan berita langit, kenapa aku tidak mempercayainya mengenai
berita bumi ?.” Maka beliau diberi gelar ash-Shiddiq.
F. Kisah-kisah Tidak Berdasar
1. Tidak boleh berkeyakinan bahwa pada saat mi’raj, Allah
mendekat kepada Rasulullah sehingga jarak antara keduanya adalah dua hasta atau
lebih dekat lagi seperti anggapan sebagian orang. Yang benar adalah bahwa yang
mendekat kepada Rasulullah adalah Jibril, bukan Allah (baca tafsir surat
an-Najm: 8-9) sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan lainnya.
2. Kisah yang menyatakan bahwa ketika Jibril telah sampai
pada suatu tempat setelah sidratul muntaha kemudian berkata kepada Nabi: “Di
sinilah seorang kawan akan berpisah dengan kawan yang sangat dicintainya,
seandainya aku terus naik, niscaya aku akan terbakar.” Ini adalah cerita dusta
yang tidak berdasar sama sekali.
3. Kisah yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah pada saat
mi’raj telah sampai di atas langit ke tujuh di suatu tempat di mana beliau
mendengar kalam Allah, Nabi berkata: at-Tahiyyatu lillah, lalu dijawab oleh
Allah: as-Salamu ‘alayka Ayyuha an-Nabiyyu Warahmatullah Wabarakatuh, riwayat
tersebut walaupun tertulis dalam beberapa kitab tentang peristiwa isra’ mi’raj
dan disampaikan oleh beberapa orang dalam ceramah peringatan isra’ mi’raj
adalah tidak benar, karena pada malam isra’ mi’raj shighat atau lafazh tahiyyat
belum difardhukan. Hanya sebagian rawi-rawi pendusta yang meriwayatkan kisah
tersebut. Kisah dusta ini telah menyebar di kalangan kaum muslimin, maka harus
dijelaskan hal yang sebenarnya.
4. Riwayat tentang bacaan tasyahud atau tahiyat yang benar
adalah sebagai berikut: “Pada awalnya sebagian para sahabat Rasulullah sebelum
disyariatkan shighat tasyahhud, mereka mengucapkan dzikir atau bacaan:
اَلسَّلَامُ عَلٰى اللّٰهِ، اَلسَّلَامُ
عَلٰى جِبْرِيْلَ، اَلسَّلَامُ عَلٰى مِيْكَائِيْلَ
Lalu Rasulullah j bersabda:
إِنَّ اللّهَٰ هُوَ السَّلَامُ
Kemudian Rasulullah mengajarkan kepada mereka untuk
mengatakan:
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ
وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Semoga hidayah, taufiq dan inayah Allah senantiasa diberikan
kepada kita sehingga keimanan kita semakin meningkat, aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No Sara n Cyber