Kata Pengantar
بسم اله الرØÙ…Ù† الرØÙŠÙ…
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan
Kesehatan pada penulis untuk dapat menyelesaikan karya tulis Ilmiah ini. Berkah
rahmat dan rahimnya penulis bisa memperdalam Kompetensi penulis dalam hal
pengembangan potensi personal penulis dalam karya tulis menulis ini. Sholawat salam juga tak lupa penulis sanjung
tinggikan kepada Rasulullah SAW, yang menjadi inspirasi bagi kehidupan untuk
tetap berkarya, sebagaimana Beliau samapaikan “sebaik Manusia Adalah yang
Bermanfaat bagi orang lain”.
Selesainya karya tulis kecil ini, tidak
terepas dari dukungan dari berbagai pihak, Kepala SMP Negeri 1 Aek Nabara
Barumun yang telah memberikan Fasilitas, pada penulis untuk menyelesaikan karya
tulis ini. Juga pada rekan-rekan guru di SMP negeri 1 Aek Nabara Barumun yang
memberikan Motivasi pada penulis.
Tak lupa pada Keluarga Tercinta, Kedua Orang
Tua, Istri dan Anak-anak Tersayang dengan kesabaran, untuk menemani dalam
setiap gerak langkah penulis. Dan juga kepada segenap yang membantu selesainya
karya tulis ini yang tidak bisa lagi penulis sebutkan satu persatu. Semoga
kebaikan di balas oleh Allah yang penyayang dengan balasan yang berlipat ganda.
Motivasi penulis dalam pembuatan Karya tulis
ini adalah untuk meningkatkan kemampuan penulis dalam bidang tulis menulis,
penulis menyadari dalam penulisan karya tulis ini masih banyak kekurang
tentunya. Untuk itu penulis menerima kritik dan saran yang konstruktif untuk
perbaikan kedepannya.
Terlebih kepada panitia Lomba Karya Tulis
Ilmiah Hari Ulang Tahun Guru ke 70 tahun 2015 PGRI Kabupaten Padang lawas.
Kiranya dapat memberikan masukan yang konstruktif kepada penulis. Kemajuan
pendidikan kita tidak terlepas dari kerja sama yang baik antara segenap
pemangku amanah pendidikan ini.
Aek Nabara Tonga, 12 November 2015
Penulis
Taufik Akbar Hasibuan
A. Latar Belakang
Menjadi seorang guru, bukanlah satu keharusan.
Menjadi seorang guru adalah pilihan Hati. Pilihan untuk menjadikannya sebagai
suatu pekerjaaan yang membutuhkan kekuatan ekxtra full, materi, dan non
materi. Menjadi guru adalah satu pekerjaan yang mulia, jika di dasari dengan
niat yang tulus dan ikhlas semata untuk mengharap rahmat dan Ridho Allah Subhana
Wataala.
Era baru ini, disaat teknologi telah menjadi
satu kebutuhuan manusia, fungsi dan peran guru seakan ikut terkikis oleh
kemajuan zaman. Dimana profesi guru di artikan sebagai satu profesi yang
menjamin masa depan. Sehingga banyak mereka yang banting setir mencoba keberuntungan
di dunia Keguruan. Dalam Undang-Undang Guru dan dosen Nomor 14 tahun 2015 “Guru
adalah Pendidik profesional dengan tugas utama,mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan,
melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik”
Merujuk pada undang undang ini, tentunya
menjadi guru itu adalah pekerjaan yang sangat mulia “memanusiakan manusia”
menjadi satu harapan untuk kemajuan Seseorang pada khususnya dan kemajuan
Bangsa dan negara pada umumnya. Berkaca pada Negara-negara yang telah maju
pradabannya, seperti Mesir Kuno, Romawi Kuno, Dinasty Abbasyiah, Dinasti
Umaayyah. Pada zaman dahulu, Amerika, Finlandia, Singapore, Rusia, China. Saat
sekarang ini tidak terlepas dari majunya pendidikan mereka.
Hal ini tentunya menjadi satu alasan bagi kita
untuk bisa menjadi seperti “mereka” Meningkatkan Mutu Pendidikan. Pendidikan
tentunya tidak terlepas dari tiga komponen dasar, Siswa, Guru, sarana. Ketiga hal ini tentunya tidak bisa berjalan
sendiri-sendiri, harus ada sinkronisasi antara satu komponen dengan komponen yang
lain. Bersinergi untuk memajukan pendidikan itu sendiri.
Dalam Karya tulis ilmiah ini tentunya penulis
hanya menyoroti satu kompenen yang menjadi profesi penulis tentunya. Dari sisi
“Guru”. Dari hipotesa penulis, guru adalah komponen utama dalam memajukan
pendidikan itu sendiri. “Guru yang baik” akan bisa menutupi lubang-lubang
kekurangan dari dua komponen lainnya. Siswa yang kurang minat belajarnya bisa
di atasi guru dengan metode yang dimiliki guru itu sendiri. Betapa banyak
Ilmuan yang lahir dari sarana yang sangat tidak memadai, di karenakan Guru yang
lihai dalam mengatasi problema tersebut.
Guru yang baik harus memiliki sifat-sifat
antusias, stimulatif, mendorong siswa untuk maju, hangat berorientasi pada
tugas dan pekerja keras, toleran, sopan, dan bijaksana, bisa di percaya,
fleksibel dan mudah menyesuaikan diri, demokratis penuh harapan bagi siswa,
tidak semata mencari reputasi pribadi, mampu mengatasi streotipe siswa,
bertanggung jawab terhadap kegiatan belaja siswa, mampu menyampaiakan perasaannnya
dan memiliki pendengaran yang baik.
Guru yang baik juga memiliki pengetahuan yang
memadai dalam mata pelajaran yang di ampunya, dan mampu terus meningkatkan,
mengikuti kemajauan dalam bidang ilmunya. Guru yang baik itu juga mampu
memberikan jaminan bahwa materi yang disamapaikannya mencakup semua unit
bahasan yang di harapkan siswa secara maksimal.
Alasan inilah menjadilkan penulis untuk
membuat satu karya tulis ilmiah, di tinjau dari segi Guru sebagai Aktor Utama
dalam proses Pembelajaran. Penulis memberikan judul dalam karya tulis ini “Guru
Yang Bercahaya kreatif dan inovatif”.
B. Tujuan
Penulisan
Adapun yang menjadi motivasi penulis dalam menulis karya
tulis Ilmiah ini:
1. Melatih kemampuan Personal penulis dalam
bidang tulis menulis
2. Menambah khazanah keilmuan sebagai satu
profesi yang digeluti
3. Mengikuti Lomba karya tulis Ilmiah dalam
rangka memeriahkan hari ulang Tahun Guru tingkat Kabupaten Padang Lawas.
C. Rumusan Masalah
Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis di
dasari oleh pertanyaan mendasar, sebagai acuan dalam penulisan karya tulis ini:
1. Apa itu guru?
2. Apa saja Kendala yang di hadapi Guru?
3. Bagaimana menjadi Guru yang Kreativ dan
Inovatif
D. Kata Kunci
Guru
|
Menurut Undang-Undang Guru dan dosen Nomor
14 tahun 2015 “Guru adalah Pendidik profesional dengan tugas utama,mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta
didik”
Menurut Noor Jamaluddin (1978:1), Guru
adalah Pendidik,yaitu orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan
atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar
mencapai kedewasaannya.
|
Bercahaya
|
Adalah Slogan Pemda Padang Lawas “Beriman,
Cerdas, dan Berbudaya”
Guru yang di analogikan Memiliki pancaran
jiwa pendidik yang dilambangkan sebagai pemberi cahaya keterangan bagi
peserta didiknya untuk meraih masa depannya.
|
Kreatif
|
“Kreativitas adalah suatu kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang memberi kesempatan individu untuk menciptakan ide-ide
asli yang bisa dipahami oleh setiap manusia dan gampang dimengerti”
(Widyatun,1999)
|
Inovatif
|
“Inovatif yaitu Usaha seseorang dengan
mendayagunakan pemikiran, kemampuan imajinasi, berbagai stimulan, dan
individu yang mengelilinginya dalam menghasilkan produk baru, baik bagi
dirinya sendiri ataupun lingkungannya
|
Jadilah guru yang menarik hati
Jadilah guru yang semangat selalu
Jadilah guru yang cerdas dan pandai
Jadilah guru yang kreatif selalu
Bila guru menarik hati
Siswa semangat selalu
Belajar rajin dan tekun
Prestasi mudah diraih
Namun bila guru galak
siswa selalu tertekan
seakan di dalam sangkar
belajar menjadi beban
Bagaimana saya tahu bahwa saya sebenarnya
adalah guru yang baik? Dapatkah saya belajar untuk menjadi guru yang baik? Atau
apakah ini adalah bakat yang harus dimiliki dari lahir?” ini adalah kisah
seseorang yang bercita-cita menjadi seorang guru. Dia lalu menjelaskan pula bahwa baru-baru ini dia telah menolak
posisi yang berpenghasilan bagus di bidang periklanan, untuk mengejar
cita-citanya menjadi guru.
Pertanyaan di atas adalah hal yang lumrah
untuk di ajukan bagi seseorang yang bercita-cita menjadi seorang guru. Hal
mendasar dalam menapaki cita-cita mulia tersebut. untuk menginspirasi seorang
guru yang hendak mengembangkan keterampilan mereka sebagai produk tertinggi
dari sebuah lembaga pendidikan tersebut. karena untuk mencapai kemampuan level
di atas perlu sebuah kompetensi-kompetensi yang terpetakan. Jika kitas lebih
lihai, sebenarnya hal in di ungkapkan oleh Taksonomi bloom, yang menjadi
rujukan dalam pengembangan kompetensi belajar di Indonesia yang kita sebyt
dengan Taxonomy of thinking.
Teori-teori tentang belajar mengajar semua
menuju pada satu pola dan model belajar yang berpusat pada siswa atau
pembelajar, tingkat keberhasilannya sangat di tentukan oleh seberapa besar
mereka merasa perlu belajar, dan seberapa besar mereka siapa belajar. Guru
adalah komponen utama dalam mewujudkan proses belajar mengajar, Lingkungan dan
sumber belajar lainnya hanyalah fasilitas yang dapat mereka berdayakan untuk
seoptimal mungkin memperoleh pengalaman dalam rangka meningkatkan berbagai
kompetensi yang di inginkan guru tersebut.
Akan tetapi, tidak semua guru memahami dan atau
menyadari paradigma ini. Praktik-praktik mengajar masih konvensional, di
dominasi oleh guru dan bahkan guru sepertinya memiliki otoritas untuk memaksa
siswa memenuhi semua apa yang di inginkan guru tersebut, Kurang bijak dalam
memperhatikan kebutuhan belajar siswanya. Pola dan model seperti ini, akan
menimbulkan perbedaan kemampuan yang ekxtrem antara satu siswa dengan siswa
yang lain, satu kelompok dengan kelompok yang lain.
Dalam istilah Freire guru tidak saja
dituntut untuk bisa mensitimuluskan siswa-siswanya belajar, tetapi harus juga
mampu memperhatikan keragaman yang ada, karena daya serap siswa berbeda-beda
satu dengan yang lainnya, dan akumulasi pengalamn belajar sebelumnya
berbeda-beda, kendala selanjtnya guru tidak bisa maksimal memahami kesulitan
belajar siswa, walaupun guru tersebut maksimal dalam menjelaskan
pelajaran-pelajaran yang di ampunya..
Secara umum guru harus memenuhi kategori capability
dan loyality. Yakni guru yang memiliki kemampuan dalam bidang ilmu
yang diajarkannya, memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari
mulai perencanaan, implementasi samapai level evaluasi. Dan memiliki loyalitas
keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas yang semata-mata tidak hanya dalam
kelas , tetapi seblum dan sesudah kelas.
Dalam hal ini ada tiga rasa dasar yang harus
dimiliki oleh seorang guru super, excellent dan Good . Rasa apa yang di inginkan
sebagai guru tergantung pada kekuatan personal kita,
hubungan pertemanan, tujuan profesional, dan prioritas individual Kita. Sebelum
Kita mulai mengajar, kita pikirkan dengan serius berapa banyak waktu, dan energi emosional
yang dapat Kita berikan untuk bekerja di luar rumah.
Lihat kembali kehidupan Kita,
hubungan-hubungan Kita, kewajiban keuangan dan emosional Kita, serta
tujuan-tujuan personal dan karier Kita. Jika Kita sulit untuk memikirkaan tentang kehidupan hidup Kita
secara objektif, diskusikan situasi Kita dengan teman atau keluarga dekat yang
mungkin dapat mengembangkan prosfek Kita.
Putuskanlah apa yang penting buat Kita
dan aspek-aspek apa yang Kita prioritaskan dalam hidup Kita. Apakah anak-anak, orang
tua, pasangan, akan merasa diabaikan jika Kita akan menghabiskan waktu senggang
Kita dengan membuat rencana mengajar atau membimbing murid? Berapa banyak energi
emosional yang akan Kita simpan sepanjang hari agar Kita memiliki jumlah yang
cukup tersisa untuk keluarga Kita dimalam hari?Akankah Kita akan merasa nyaman
membimbing murid dalam masalah pribadi mereka ataukah Kita akan memberikan
maslah-maslah itu kepada orang tua atau wali mereka?
Tidak ada jawaban benar atau salah bagi
pertanyaan-pertanyaan itu, tapi jika Kita tahu jawabannya sebelum Kita memulai
mengajar, Kita akan menjadi guru yang lebih bahagia, dan instruktur yang lebih
sukses. Tidak semua
orang dapat atau harus menjadi guru super,
sangatlah diterima guru yang excellent atau good.
A. Guru Super
Mengajar dengan
super membutuhkan energi fisik, emosi, dan mental yang sangat tinggi.
Guru-guru super biasanya tiba di
sekolah lebih awal dan pulang lebih akhir. Mereka juga menghadiri seminar dan
melanjutkan kuliyah pendidikan, sukarelawan bagi kegiatan murid, dan memberikan
diri mereka bagi murid-murid yang membutuhkan bantuan ekstra di dalam maupun
diluar kelas. Karena guru super menikmati hubungan yang solid dengan para
muridnya, mereka tidak harus berfokus pada berapa banyak waktu atau energi
untuk menerapkan disiplin dikelas-kelas mereka.
Sebaliknya, ada
pasang surut dan proses memberi dan menerima,
dimana rasa mengajar sama seperti para pelari merasakan sensasi ketagihan untuk berlari. Sayangnya, jika mereka bukan orang luar biasa dengan cadangan energi yang
mengagumkan atau jika mereka tidak berusaha meremajakan diri mereka sendiri
secara teratur, para guru super mungkin akan sangat lelah.
Mengajar dengan
super membutuhkan dukungan fisik dan mental yang sangat besar, tergantung dari
anggaran Kita, yang mungkin akan menyerap pula sejumlah uang. Jika Kita belum
menikah, belum mempunyai anak, dan
tidak memiliki ikatan, Kita mungkin akan memilih untuk membaktikan seluruh
energi Kita untuk mengajar. Tetapi, jika Kita adalah orang tua tunggal dengan
tiga anak kecil dan memiliki beban keluarga yang cukup besar, Kita
mungkin tidak akan dan tidak dapat mencurahkan energi yang sangat besar yang
diperlukan untuk menjadi guru super.
Memiliki anak
bukan berarti larangan untuk menjadi guru super, ini artinya Kita harus
memastikan bahwa keluarga Kita memahami dan mendukung pilihan mengajar Kita.
Jika kita memiliki anak-anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, dapat
memotivasi diri sendiri dan hormat pada Kita dan pasangan Kita, jika pasangan Kita
mendukung tujuan-tujuan karier Kita, dan jika Kita memiliki tingkat energi yang
tinggi, maka Kita kemungkinan akan dapat mengatasi stres yang terjadi dalam
mengajar secara super. Tetapi jangan memaksa diri sendiri, jika Kita tidak
dapat menjadi seorang yang luar biasa. Menjadi guru yang exellent atau good
adalah pencapaian yang sesungguhnya.
B. Guru Excellent
Guru-guru yang Excellent
menikmati pekerjaan mereka, tetapi mereka membatasi jumlah waktu dan energi
yang mereka baktikan untuk mengajar. Mereka peduli dan melakukan yang terbaik
bagi para murid mereka, tetapi tidak mengorbankan kebutuhan keluarga mereka
sendiri. Para guru excellent juga
bekerja lembur karena untuk mengajar yang baik dibutuhkan sejumlah waktu lembur
yang tidak dibayar (seperti memeriksa pekerjaan murid, membuat rencana
mengajar, dan mengawasi karya wisata), tetapi mereka memberikan batasan waktu
lembur yang mau mereka kerjakan.
Mengajar dengan
excellent membutuhkan pengeluaran energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan
mengajar super, tetapi mengajar dengan excellent tetap dapat membuat Kita lelah
jika Kita tidak hati-hati, berikan waktu untuk menjaga diri Kita sendiri dan
keluarga Kita. Bahkan Kita juga harus menjelaskan kepada teman dan keluarga Kita
bahwa pekerjaan Kita adalah prioritas utama dan Kita harus menghabiskan
malam-malam dan akhir pekan Kita untuk mengembangkan pelajaran dan keterampilan
Kita. Ingatlah, bahwa Kita tidak boleh terlalu keras pada diri Kita sendiri
jika Kita merasakan bahwa Kita tidak dapat mengatasi masalah mengajar seperti
yang Kita kira, terutama pada tahun-tahun awal. Hanya dengan menguasai dasar
mengajar yang baik sudah merupakan pencapaian yang penting, dan murid-murid
tetap akan tumbuh di dalam kelas klasik yang para gurunya baik.
C. Guru Good
Guru yang good
mengerjakan perkerjaan mereka dengan baik, tetapi mereka memahami batasan
mereka sendiri. Mereka membuat batasan yang sangat jelas antara profesionalitas
dan waktu pribadi. Mereka memperlakukan murid mereka dengan rasa hormat dan
mereka melakukan yang terbaik untuk memastikan bahwa semua murid mempelajari
materi yang disyaratkan untuk tingkat pendidikan selanjutnya, tetapi mereka
tidak merasa berkewajiban untuk menyelamatkan murid-muridnya satu per satu.
Guru-guru yang good tiba disekolah cukup awal untuk menyiapkan diri, tetapi mereka
tidak menawarkan kunjungan kerumah mereka atau tidak juga jam istirahat mereka.
Tanpa menyampingkan kita apakah Kita memilih
untuk menjadi seorang guru yang super, excellent atau good, Kita tetaplah
seorang yang memberikan kontribusi kepada masyarakat dan menjalankan tugas
mulia, dan memberikan pembentukan masa depan negeri kita. Selain diri kita sendiri, murid Kita, dan beberapa pengawas, tak
seorangpun yang tahu berapa banyak energi yang kita abdikan bagi pekerjaan Kita.
Tetapi, kita menjadi guru bukanlah untuk mendapatkan penghargaan dari orang
banyak. Kita mengajar bukan untuk keinginan gengsi, tetapi kita mengajar karena
kita yakin bahwa ini adalah hal yang penting.
Perumpamaan mengajar adalah seperti
berlari maraton dalam kegelapan sendirian. Tidak banyak tahu apa yang sedang Kita
lakukan, dan mereka yang tahu tidak memberikan perhatian – tetapi kealpaan
mereka tidak membuat Kita menjadi lambat. Kita tetap dapat menikmati kepuasan
dan kegembiraan akan selesainya pertandingan, dimana Kitalah pemenang yang
sesungguhnya.
Inilah kreativitas seorang guru, seorang guru
yang memiliki sikap positif, yang tidak sisnis dengan pekerjaannya Mereka
berani menyusun tujuan yang sangat muluk dan komplit dan mereka berani berjuang
untuk mencapainya. Selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak
semuanya memiliki rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya. Mencoba
memotivasi siswa-siswanya untuk hidup mandiri, lebih independent..
Betapapun Seorang guru ingin melakukan yang
terbaik untuk siswanya, namun tidak akan bisa membuat puas dan terlayani.
Pendidikan selalu berahir dengan kompetensi, yakni kecakapan atau kemampuan
untuk menguasai bidang materi yang di ajarkan, disnilah di perlukan krativitas
seorang guru. Kreativitas ini tidak terlepas dari komunikasi guru pada siswa,
karna guru adalah seorang komunikator mengkomunikasikan rencana-rencana
pembelajaran, program-program kelas, bahan ajar pada peserta didiknya,pada
pihak sekolah, komite sekolah dan bahkan pada orang tua siswa.
Oleh sebab itu guru harus menguasai
teori-teori komunikasi efektif, karena tidak akan terlalu bermanfaat ilmu yang
dikuasai guru kalau tidak mampu mengkomunikasikannya pada yang siswa, pihak
sekolah, komite sekolah, dan orang tua murid itu sendiri. Komunikasi ini adalah
sebuah proses yang terus berkembang karena bukan suatu pekerjaan yang
terisolasi. Baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi non verba.
Sikap seorang guru harus benar-benar memiliki
motivasi untuk mnejadi guru yang baik, harus menjadi guru yang pekerja keras,
bangga dengan tugasnya sebagai guru, percaya diri dan mampu berkereasi yang
inovatif, dengan demikian menjadi seorang guru adalah sebuag pilihan hati,
bukan semata hanya karna penghasilan, atau karna keterpaksaan.
Untuk menjadi seorang guru yang baik seseorang
harus memiliki berbagai kriteria atau sifat-sifat yang diperlukan untuk profesi keguruan yang digelutinya,
antara lain:
1. Antusias
2. Stimulatif
3. Mendorong siswa untuk maju
4. Hangat
5. Berorientasi pada tugas
6. Pekerja keras
7. Toleran
8. Sopan
9. Bijaksana
10. Menguasai bidang yang di ajarkan
Inilah kriteria untuk menjadi guru yang
bercahaya kreatif dan inovatif, yang mampu mebawa harapan untuk kemajuan masa
depan dari peserta didiknya. Bukan menjadi momok yang menakutkan bagi peserta
didik. Dengan demikian kriteria yang penulis sampaikan ini mengarah pada kriteria kinerja seorang guru yang komprehensif,
dengan tujuan peningkatan efektivitas pembelajaran yang tidak lagi parsial,
tapi menjadi holistik.
A. Kesimpulan
Ada tiga rasa dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru super, excellent
dan Good . Rasa apa yang di
inginkan sebagai guru tergantung pada kekuatan personal kita,
hubungan pertemanan, tujuan profesional, dan prioritas individual Kita. Sebelum
Kita mulai mengajar, kita pikirkan dengan serius berapa banyak waktu, dan energi emosional
yang dapat Kita berikan untuk bekerja di luar rumah.
Disinilah di butuhkan kreativitas seorang guru, seorang guru yang memiliki
sikap positif, yang tidak sisnis dengan pekerjaannya Mereka berani menyusun
tujuan yang sangat muluk dan komplit dan mereka berani berjuang untuk mencapainya.
Selalu mencoba membuat siswanya percaya diri, karena tidak semuanya memiliki
rasa percaya diri yang seimbang dengan prestasinya.
Sikap seorang guru harus benar-benar memiliki motivasi untuk mnejadi guru
yang baik, harus menjadi guru yang pekerja keras, bangga dengan tugasnya
sebagai guru, percaya diri dan mampu berkereasi yang kreativ dan inovatif, dengan demikian menjadi seorang
guru adalah sebuag pilihan hati, bukan semata hanya karna penghasilan, atau karna
keterpaksaan.
B. Saran-saran
Teori-teori tentang mengajar dan belajar yang telah penulis kemukaan adalah
pola belajar yang berpusat pada siswa sebagai pembelajar, guru lingkungan dan
sumber belajar lainnya hnyalah fasilitas yang dapat diberdayakan seoptimal
mungkin. Dalam rangka peningkatan komptensi personal guru.
Akan tetapi, tidak semua guru memahami tugas mulia ini atau bahkan tidak
meyadari paradigma ini. Praktik-praktik mengajar masih di dominasi oleh guru
dan bahkan sepertinya guru memiliki otoritas untuk memaksa siswa untuk memenuhi
semua yang diinginkannya.
Harapannya dengan adanya lomba karya ilmiah ini, akan menambah wawasan kita
dalam mempersiapkan generasi emas 2045, sebagaiman dicanangkan oleh pemerintah
Republik Indonesia, dan juga untuk mewujudkan Visa dan Misi Bapak Bupati Padang
Lawas Yang “BERCAHAYA” kemampuan personal seorang guru harus terusdi tingkatkan
se efektis dan efisien mungkin agar menjadi guru yang Kreatifd dan Inovatip
berdayasaing yang bisa di handalkan. Menyongsong MEA 2016.
Selamat ulang tahun guruku jasa-jasamu tak akan kulupakan!!!
DAFTAR PUSTAKA
Nurdin,
Muhammad, 2010. Kiat menjadi guru Profesional. Yogyakarta: AR Ruzz media
Group
Rosyada,
Dede, 2004, Paradigma Pendidikan demokratis ‘Pelibatan Masyarakat Dalam
penyelenggaraan Pendidikan . Jakarta: Prenada media
Alya,
Qonita, 2009, Kamus Bahasa Indonesia Untuk Pendidikan Dasar. Jakarta:
PT. Indah Jaya Adipratama